Opini
Hadis dan Ilusi Kesalehan Online
Apa yang dulu dianggap cukup untuk diri sendiri, kini terasa “kurang lengkap” kalau belum dibagikan.
Kadang ia sangat halus, bahkan bisa bersembunyi di balik niat baik. Misalnya, kita bilang “ini untuk menginspirasi,” tapi dalam hati kecil ada rasa senang ketika dipuji. Itu manusiawi, tapi tetap perlu diwaspadai.
Meski begitu, kita juga tidak bisa langsung menghakimi bahwa semua bentuk “menampakkan ibadah” itu salah.
Dalam sejarah Islam, justru ada contoh yang menunjukkan bahwa memperlihatkan amal bisa menjadi bagian dari dakwah.
Abdullah bin Umar, misalnya, dikenal sangat teliti dalam mengikuti praktik Nabi.
Ia tidak segan memperlihatkan bagaimana ia berwudhu, bagaimana ia beribadah, karena tujuannya jelas: agar orang lain bisa belajar langsung, bukan sekadar mendengar teori.
Dalam konteks ini, amal yang tampak justru menjadi sarana pendidikan. Begitu juga dengan Sufyan al-Tsauri.
Ia dikenal sangat menjaga keikhlasan, bahkan cenderung menghindari popularitas. Tapi dalam situasi tertentu, ia tetap tampil di hadapan publik—mengajar, memimpin, bahkan menunjukkan praktik ibadah—karena itu bagian dari tanggung jawab keilmuan.
Hal yang sama bisa kita lihat pada Ahmad ibn Hanbal. Keteguhan beliau dalam beribadah di tengah tekanan tidak disembunyikan, justru menjadi teladan yang menguatkan banyak orang.
Jadi, jelas bahwa dalam tradisi Islam, ada ruang untuk menampakkan amal—selama orientasinya benar.
Yang membedakan dengan kondisi sekarang adalah lingkungannya.
Para ulama dulu hidup dalam ruang sosial yang terbatas, tanpa tekanan untuk terus “eksis”.
Mereka tidak menghadapi algoritma yang mendorong konten untuk terus muncul dan diulang.
Hari ini, kita hidup dalam sistem yang secara tidak langsung “meminta” kita untuk terus tampil.
Kalau tidak, kita seperti hilang dari peredaran. Di titik ini, bahkan niat yang baik pun bisa tergelincir tanpa kita sadari.
Di sisi lain, hadis juga banyak menekankan keutamaan amal yang dilakukan secara diam-diam.
| Hari Buruh: Kerja Layak, Upah Layak |
|
|---|
| Ketika Potongan Video Memanipulasi Publik dan Mengancam Demokrasi |
|
|---|
| A’bulosibatang, Ikhlas, dan Bahagia di Usia 163 Jeneponto |
|
|---|
| B50 Bukan Hanya soal Energi Terbarukan, tapi Juga soal Hilirisasi Sawit |
|
|---|
| Menutup Celah Distorsi Demokrasi pada Pemungutan Suara Ulang di Pemilu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-30-Dr-Amrullah-Harun-SThI-MHum.jpg)