Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Obat Setelan: Sembuh Cepat, Risiko Panjang

Kebutuhan akan solusi cepat di tengah gaya hidup yang serba sibuk membuat banyak orang memilih pengobatan instan.

Tribun-timur.com
OPINI - Irda Rezkina Azis, ASN di Balai Besar POM di Makassar 

Oleh: Irda Rezkina Azis
ASN di Balai Besar POM di Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Siapa yang tidak ingin sembuh dengan cepat?

Di tengah kesibukan dan tuntutan aktivitas, banyak orang memilih cara instan tanpa harus memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.

Disinilah “obat setelan” menjadi pilihan murah, mudah didapat, dan dianggap mujarab.

Cukup diminum, keluhan terasa mereda.

Namun, di balik kepraktisan tersebut, ada risiko yang sering diabaikan.

Dalam Bahasa Makassar dikenal ungkapan “Tena Pabballe Sikali Tappa’ Naiya Wasseleka Sirurungang Karesoa” yang mengajarkan bahwa Tiada Obat Sekali Minum Langsung Manjur Karena Hasil Seiring Dengan Usaha.

Obat setelan merupakan istilah yang digunakan dimasyarakat untuk menyebut racikan beberapa jenis obat yang dicampur menjadi satu dan dikemas tanpa label, tanpa identitas, serta tanpa informasi komposisi yang jelas.

Obat ini umumnya diberikan sebagai “paket” untuk keluhan tertentu, seperti flu, nyeri, atau pegal-pegal.

Dalam praktiknya, obat setelan sering diperoleh dari penjual tidak resmi, seperti warung, toko kecil, atau praktik informal diluar fasilitas kesehatan berizin, dimana direkomendasikan dari mulut ke mulut karena dianggap ampuh dan praktis.

Namun, karena tidak melalui standar yang jelas dan tidak berada dalam pengawasan tenaga medis, kandungan serta keamanannya tidak dapat dipastikan, sehingga berpotensi menimbulkan risiko bagi kesehatan.

Bahaya dari penggunaan obat setelan tidak bisa dianggap sepele.

Setiap obat memiliki dosis, indikasi, serta efek samping yang berbeda.

Penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan gangguan lambung, kerusakan ginjal, hingga resistensi antimikroba yang kini menjadi ancaman serius dalam dunia kesehatan.

Efek yang terasa cepat sering kali hanya meredakan gejala, bukan menyembuhkan penyebab penyakit.

Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab.

Kebutuhan akan solusi cepat di tengah gaya hidup yang serba sibuk membuat banyak orang memilih pengobatan instan.

Di sisi lain, kemudahan akses obat di luar jalur resmi masih menjadi celah.

Ditambah lagi, pengalaman subjektif masyarakat yang merasa “cocok” memperkuat kepercayaan terhadap obat setelan.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, obat setelan dapat dipandang sebagai bentuk ekstrem dari swamedikasi.

World Health Organization mencatat bahwa penggunaan obat tanpa pengawasan tenaga kesehatan berkontribusi pada meningkatnya resistensi antimikroba, yang kini menjadi ancaman global.

Di Indonesia, upaya pengawasan sebenarnya telah dilakukan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan secara berkala melakukan pengawasan serta Upaya Pengeakan Hukum terhadap peredaran Obat illegal, termasuk obat setelan yang tidak memenuhi standar.

Dalam beberapa kasus Obat Setelan, ditemukan obat yang mengandung bahan obat keras tanpa keterangan yang jelas.

Ini menunjukkan bahwa peredaran obat tidak aman masih menjadi persoalan nyata, sekaligus menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih berhati hati dalam memilih pengobatan.

Ironisnya, praktik ini tetap bertahan karena dianggap praktis, murah dan terjangkau.

Padahal, rasa cocok tidak selalu berarti aman.

Disinilah tantangan kita bersama.

Bukan hanya soal pengawasan dari pihak berwenang, tetapi juga peningkatan kesadaran masyarakat.

Edukasi kesehatan perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah tergoda oleh solusi instan.

Sudah saatnya kita lebih bijak dalam menjaga kesehatan.

Kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditukar dengan kepraktisan sesaat.

Obat bukan sekadar barang konsumsi biasa, melainkan sesuatu yang harus digunakan dengan pengetahuan dan kehati-hatian.

Pilihlah pengobatan yang jelas sumbernya, pastikan ada informasi yang lengkap, dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan bila diperlukan.

Karena pada akhirnya, keputusan yang tepat hari ini akan menentukan kualitas kesehatan kita di masa depan.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved