Opini
Presiden Akal Sehat Rocky Gerung Tiarap, Kenapa?
Dalam sejarah peradaban manusia, tersebutkan bahwa seorang intelektual adalah seorang yang ikut serta menjaga sebuah tatanan kehidupan.
Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir
Founder Anak Makassar Voice
TRIBUN-TIMUR.COM - Kemana peran intelektual kita hari ini?
Dalam sejarah peradaban manusia, tersebutkan bahwa seorang intelektual adalah seorang yang ikut serta menjaga sebuah tatanan kehidupan.
Pandangan yang mengakar dan terus melibatkan diri pada kehidupan sosial.
Lantas bagaimana dengan peran intelektual kita hari ini?
Masa-masa awal ilmu pengetahuan sebagai penanda awal berfungsinya akal pikiran manusia terbagi dengan banyak fase semisal masa pra klasik, klasik, pertengahan hingga modern.
Dalam beberapa tahapan ini muncul aktor-aktor intelektual yang ikut menentukan arah masa depan, hadir sebagai antitesa dari sebuah kemapanan, kebobrokan, kesewenang-wenangan.
Mereka tidak terbendung. Seperti matahari yang terus memancarkan sinarnya di tengah kegelapan bangsa oleh para pemimpin-pemimpin yang terbilang sangat korup dan tidak manusiawi.
Tiga tokoh kunci sebagai tonggak peradaban yakni Sokrates, Plato dan Aristoteles adalah sebuah penanda, sebuah jangkar, representatif bahkan sampai pada masa kini.
Keunggulan filosofinya dalam memberi makna hidup menjadi ilham bagi para filsuf-filsuf setelahnya.
Bahkan menjadi sebuah rujukan dan referensi lahirnya ilmu-ilmu baru seperti yang kita rasakan dalam dunia pendidikan hari ini.
Bagi saya, tiga nama penting di atas bukan hanya sebuah nama belaka, melainkan sebuah perwujudan manusia yang hidup dalam bayang-bayang tuhan yakni dalam hal kebenaran.
Mereka kemudian menggoreskan sebuah pemahaman yang berujung pada cara pandang dan kesadaran kita.
Ringkasnya, mereka hadir dan lahir sebagai puncak kemanusiaan dalam hal berpikir, eksistensi diri terutama sekali kemajuan.
Sehingga, pada umumnya dapat dikatakan sebagai wakil tuhan di muka bumi ini.
Dalam perjalanannya, juga lahir para filsuf-filsuf yang mengembangkan akar pemahaman baru. Hingga sampai pada hari ini.
Apa tugas kaum intelektual?
Menurut Ali Syari’ati kaum intelektual memiliki peranan penting.
Dia dipandang sebagai sebuah representatif zaman yang hadir untuk membawa sebuah perubahan penting.
Ikut merasakan, meresahkan dan merasa gelisah dengan apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakatnya.
Dalam konteks Indonesia, kita telah memiliki orang-orang ini sebagai aktor intelektual, penegak dan pencipta sejarah, pembawa perubahan di bawah bayang-bayang sebuah rezim yang terkesan tidak manusiawi, diktator, sewenang-wenang dan merampas hak-hak orang lain.
Nama-nama besar itu antara lain Soekarno dan Hatta sang proklamator sejati, simbol kemerdekaan Indonesia, Sutan Sjahir aktor intelektual muda yang menonjol kala itu, Tan Malaka gerilyawan sejati dengan semangat revolusionernya mengantarkan Indonesia pada gerbang kemerdekaan.
Serta nama-nama lain pada zaman itu yang juga ikut memberi kontribusi besar.
Padanya lahir pemikiran-pemikiran yang kemudian menentukan arah perjuangan bangsa dan negara di masa depan.
Setiap daerah dan provinsi pada bangsa ini memiliki aktor intelektual masing-masing yang belakangan telah dinobatkan sebagai seorang pahlawan akibat jasa-jasa, dedikasi, ketulusan, nilai-nilai serta kesuksesan dan kejayaan yang telah diraihnya dalam sebuah cita-cita dan perjuangannya.
Lantas bagaimana keterlibatan kaum Intelektual hari ini?
Bagi saya melihat fenomena hari ini cukup miris. Aktor-aktor intelektual kita selain berakhir di balik jeruji, mereka mendapat perlakukan kekerasan dan kekejaman.
Seperti halnya pada masa-masa kolonialisme, orde lama dan orde baru para pemikir, intelektual dan aktivis juga mendapat hal serupa.
Liat misalnya kasus Andrie Yunus yang lantang bersuara, ikut menolak RUU TNI yang dipandang bertujuan melemahkan peran sipil, rangkap jabatan dan membangun luka lama dan trauma orde baru dengan cara mendapat perlakuan kasar dengan penyiraman air keras.
Lantas rezim hari ini tidak menyikapinya sebagai sebuah tindakan fatal yang harus di usut sampai ke akar-akar dan memberikan hukum yang seadil-adilnya pada pelaku.
Ini juga menandakan bahwa rezim Prabowo hari ini berbeda zaman tapi rasa-rasanya masih berwajah orde baru dengan kesewenang-wenangannya.
Ke mana kaum intelektual kita?
Bahwa benar setiap zaman memiliki pelaku dan aktor intelektualnya masing-masing.
Pada era ini lahir seorang pemikir handal, pengeritik tajam dari periode ke periode yang sebagian orang masih menganggapnya sangat idealis, organik dan menjadi sebuah rujukan.
Rocky Gerung adalah sosok yang termaksudkan, suara-suara kritisnya menandakan keberpihakannya pada suara rakyat yang diabaikan.
Peran Rocky Gerung pada era Jokowi begitu sangat besar. Dia mengeritik segala bentuk kebijakan Jokowi yang banyak meresahkan, merugikan dan terkesan korup.
Sebagai oposisi dia sungguh menjalankan tugasnya dengan baik era Joko Widodo.
Dia sangat populer di media-media nasional, di undang di acara-acara TV.
Tanpanya, rezim Jokowi akan berjalan normal-normal saja. Tetapi, dengan kemampuannya membongkar segala fakta dan kebusukan kebijakan Jokowi membawa dirinya mendapat julukan Presiden Akal Sehat.
Hari ini Rocky Gerung terkesan tiarap. Penuh tanya entah karena Prabowo Subianto adalah seorang sahabat atau media-media besar dan saluran Tv kita sengaja mencounternya atau perlahan rezim hari ini mematikan napas pemikirannya?
Ini tentu menjadi tanda tanya.
Sekaligus alarm penting bahwa seorang intelektual tidak boleh diam dengan kondisi yang tampak tidak adil.
Saya rasa jika demikian maka Rocky Gerung tidak lagi di anggap sebagai seorang aktor intelektual.
Karena, seperti yang dikatakan Ali Syari’ati seorang Intelektual adalah dia yang terlibat dan menjadi simbol penting dalam membawa perubahan.
Hari ini Rocky Gerung tidak sepedas era Jokowi, ketajaman kritikannya pada kebijakan dan semangatnya sebagai oposisi perlahan memudar.
Ada apa?
Mari kita sama-sama menyadari dan ikut mempertanyakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251103-Andi-Yahyatullah-Muzakkir-Founder-Anak-Makassar-Voice.jpg)