Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Presiden Akal Sehat Rocky Gerung Tiarap, Kenapa?

Dalam sejarah peradaban manusia, tersebutkan bahwa seorang intelektual adalah seorang yang ikut serta menjaga sebuah tatanan kehidupan.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Andi Yahyatullah Muzakkir Founder Anak Makassar Voice. Andi Yahyatullah Muzakkir salah satu penulis rutin Opini Tribun Timur. 

Sehingga, pada umumnya dapat dikatakan sebagai wakil tuhan di muka bumi ini.

Dalam perjalanannya, juga lahir para filsuf-filsuf yang mengembangkan akar pemahaman baru. Hingga sampai pada hari ini.

Apa tugas kaum intelektual?

Menurut Ali Syari’ati kaum intelektual memiliki peranan penting.

Dia dipandang sebagai sebuah representatif zaman yang hadir untuk membawa sebuah perubahan penting.

Ikut merasakan, meresahkan dan merasa gelisah dengan apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakatnya. 

Dalam konteks Indonesia, kita telah memiliki orang-orang ini sebagai aktor intelektual, penegak dan pencipta sejarah, pembawa perubahan di bawah bayang-bayang sebuah rezim yang terkesan tidak manusiawi, diktator, sewenang-wenang dan merampas hak-hak orang lain.

Nama-nama besar itu antara lain Soekarno dan Hatta sang proklamator sejati, simbol kemerdekaan Indonesia, Sutan Sjahir aktor intelektual muda yang menonjol kala itu, Tan Malaka gerilyawan sejati dengan semangat revolusionernya mengantarkan Indonesia pada gerbang kemerdekaan.

Serta nama-nama lain pada zaman itu yang juga ikut memberi kontribusi besar. 

Padanya lahir pemikiran-pemikiran yang kemudian menentukan arah perjuangan bangsa dan negara di masa depan.

Setiap daerah dan provinsi pada bangsa ini memiliki aktor intelektual masing-masing yang belakangan telah dinobatkan sebagai seorang pahlawan akibat  jasa-jasa, dedikasi, ketulusan, nilai-nilai serta kesuksesan dan kejayaan yang telah diraihnya dalam sebuah cita-cita dan perjuangannya.

Lantas bagaimana keterlibatan kaum Intelektual hari ini?

Bagi saya melihat fenomena hari ini cukup miris. Aktor-aktor intelektual kita selain berakhir di balik jeruji, mereka mendapat perlakukan kekerasan dan kekejaman.  

Seperti halnya pada masa-masa kolonialisme, orde lama dan orde baru para pemikir, intelektual dan aktivis juga mendapat hal serupa. 

Liat misalnya kasus Andrie Yunus yang lantang bersuara, ikut menolak RUU TNI yang dipandang bertujuan melemahkan peran sipil, rangkap jabatan dan membangun luka lama dan trauma orde baru dengan cara mendapat perlakuan kasar dengan penyiraman air keras.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Pilihan

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved