Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Rumah: Kawasan Tanpa Rokok yang Tak Pernah Diatur

Namun ada satu ruang yang luput dari perhatian, ruang yang justru paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: rumah.

Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Nur Afiaty Mursalim Dosen Prodi D4 Promosi Kesehatan FIKK UNM 

Oleh: Nur Afiaty Mursalim

Dosen Prodi D4 Promosi Kesehatan FIKK UNM

TRIBUN-TIMUR.COM - Kita bangga memiliki Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Tanda larangan merokok terpampang di sekolah, kampus, kantor, hingga fasilitas kesehatan.

Regulasi disusun rapi, kampanye digalakkan, dan sanksi diperjelas.

Namun ada satu ruang yang luput dari perhatian, ruang yang justru paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: rumah.

Di dalam rumah, rokok seringkali tidak dianggap sebagai masalah.

Ia hadir dalam percakapan santai, di sela waktu istirahat, atau bahkan di dekat anak-anak yang sedang bermain.

Tidak ada plang larangan, tidak ada pengawasan, dan tidak ada sanksi. Yang ada hanyalah kebiasaan yang dianggap wajar.

Padahal, bagi anak dan ibu, rumah adalah titik paparan terbesar terhadap asap rokok.

Mereka bukan perokok aktif, tetapi menjadi penerima dampak tanpa pilihan. Setiap kepulan asap yang terhirup bukanlah hasil keputusan mereka, melainkan konsekuensi dari lingkungan yang tidak memberi perlindungan.

Dalam perspektif promosi kesehatan, kondisi ini menunjukkan bahwa kita masih melihat KTR sebagai kebijakan ruang, bukan sebagai upaya perubahan perilaku.

Kita berhasil “mengusir” rokok dari ruang publik, tetapi belum mampu “menggeser” norma di ruang privat.

Akibatnya, terjadi paradoks: semakin ketat aturan di luar rumah, semakin bebas praktik di dalam rumah.

Jika ditinjau melalui konsep Health Belief Model, perubahan perilaku tidak cukup dipicu oleh larangan.

Individu perlu merasa bahwa risiko itu nyata, dekat, dan relevan dengan kehidupannya.

Sayangnya, banyak orang tua tidak melihat asap rokok di rumah sebagai ancaman langsung bagi anak.

Risiko dianggap jauh, sementara dampaknya tidak selalu terlihat secara instan. Dari sudut pandang Ecological Model of Health Promotion, perilaku merokok di rumah dipengaruhi oleh norma sosial yang lebih luas.

Selama merokok masih dianggap hal biasa, bahkan simbol relaksasi atau kebersamaan, maka rumah akan terus menjadi ruang yang permisif.

Dalam konteks ini, kebijakan formal seperti KTR tidak cukup kuat untuk menembus batas budaya dan kebiasaan. 

Yang lebih mengkhawatirkan, anak-anak tumbuh dengan persepsi bahwa merokok adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mereka belajar bukan dari larangan di sekolah, tetapi dari contoh di rumah. Di sinilah siklus perilaku terbentuk diam-diam, tetapi kuat.

Oleh karena itu, pendekatan promosi kesehatan perlu bergeser. Rumah tidak bisa diatur dengan cara yang sama seperti ruang publik, tetapi bukan berarti tidak bisa diintervensi.

Kuncinya terletak pada pendekatan yang lebih humanis, partisipatif, dan berbasis kesadaran.

Mengajak keluarga untuk menetapkan “aturan bersama” tanpa rokok di dalam rumah bisa menjadi langkah awal.

Bukan sebagai bentuk paksaan, tetapi sebagai komitmen untuk melindungi anggota keluarga yang paling rentan.

Kampanye kesehatan juga perlu lebih menekankan dampak nyata pada anak, bukan sekadar pesan umum tentang bahaya rokok.

Selain itu, peran ibu, remaja, dan anggota keluarga lain perlu diperkuat sebagai agen perubahan dalam rumah tangga.

Ketika norma dalam keluarga mulai bergeser, dari permisif menjadi protektif, maka perubahan akan terjadi secara lebih alami dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi sekadar “apakah KTR sudah diterapkan?”, tetapi “siapa yang benar-benar terlindungi?”.

Selama rumah masih menjadi ruang tanpa aturan, maka upaya kita akan selalu setengah jalan.

Kawasan Tanpa Rokok tidak seharusnya berhenti di batas papan larangan. Ia harus hidup dalam nilai, dalam kebiasaan, dan dalam keputusan sehari-hari, terutama di tempat yang paling penting: rumah.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved