Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Remaja Berkarya, Rokok Kehilangan Panggungnya

Ketika rokok sudah menjadi simbol sosial, maka pendekatan yang hanya mengandalkan logika kesehatan akan sulit menandinginya.

Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Nur Afiaty Mursalim Dosen Prodi D4 Promosi Kesehatan FIKK UNM 

Oleh: Nur Afiaty Mursalim

Dosen Prodi D4 Promosi Kesehatan FIKK UNM

TRIBUN-TIMUR.COM - Pencegahan perilaku merokok pada remaja di Indonesia masih sering berjalan dalam pola yang sama: penyuluhan di kelas, pemasangan poster, hingga himbauan berulang tentang bahaya rokok.

Semua itu penting, tetapi belum tentu cukup. Masalahnya bukan pada kurangnya informasi, melainkan pada cara informasi itu hadir di tengah kehidupan remaja.

Di saat pesan kesehatan disampaikan secara serius dan formal, remaja justru hidup dalam dunia yang dinamis—dipenuhi kreativitas, ekspresi diri, dan kebutuhan untuk diakui oleh
lingkungan sosialnya.

Di ruang itulah rokok menemukan panggungnya. Ia tidak sekadar hadir sebagai produk, tetapi sebagai simbol—tentang keberanian, kedewasaan, bahkan solidaritas dalam pertemanan.

Banyak remaja tidak mulai merokok karena tidak tahu risikonya, tetapi karena ingin menjadi bagian dari kelompok, ingin terlihat “setara”, atau sekadar tidak ingin berbeda.

Ketika rokok sudah menjadi simbol sosial, maka pendekatan yang hanya mengandalkan logika kesehatan akan sulit menandinginya.

Di sinilah pentingnya menghadirkan pendekatan yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif.

Pendekatan berbasis seni menawarkan peluang besar untuk itu. Seni—baik dalam bentuk musik, teater, film pendek, mural, hingga konten digital—memberikan ruang bagi remaja untuk berbicara dengan cara mereka sendiri.

Ketika mereka diberi kesempatan untuk berkarya, mereka tidak lagi sekadar menjadi sasaran pesan kesehatan, tetapi menjadi pencipta pesan itu sendiri.

Keterlibatan ini bukan hal sepele. Dalam perspektif Theory of Planned Behavior, perilaku seseorang dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol diri.

Melalui kegiatan kreatif, ketiga aspek ini dapat disentuh secara bersamaan.

Sikap terhadap merokok dapat berubah ketika remaja mulai membangun narasi alternatif tentang hidup sehat melalui karya mereka.

Norma subjektif terbentuk ketika lingkungan pertemanan mereka mulai mengapresiasi pilihan untuk tidak merokok.

Sementara itu, persepsi kontrol diri meningkat ketika mereka merasa mampu mengekspresikan diri dan menolak tekanan sosial dengan cara yang lebih percaya diri.

Pendekatan ini juga selaras dengan Social Cognitive Theory yang menekankan pentingnya pembelajaran sosial dan self-efficacy.

Remaja belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang dewasa, tetapi dari apa yang mereka lihat dan alami.

Ketika mereka menyaksikan teman sebaya yang aktif berkarya, percaya diri, dan memilih untuk tidak merokok, terbentuklah model perilaku yang lebih relevan.

Pengalaman berkarya itu sendiri juga memperkuat rasa percaya diri—bahwa mereka mampu membuat pilihan yang berbeda dan tetap diterima dalam lingkungannya.

Lebih jauh, jika dikaitkan dengan Health Belief Model, pendekatan berbasis seni memungkinkan remaja memahami risiko merokok secara lebih kontekstual.

Mereka tidak hanya “tahu” bahwa rokok berbahaya, tetapi juga “merasakan” dampaknya melalui cerita, visual, dan pengalaman emosional yang mereka ciptakan sendiri.

Ini membuat pesan kesehatan menjadi lebih bermakna dan tidak mudah dilupakan.

Namun, kekuatan utama dari pendekatan ini sebenarnya terletak pada perubahan posisi remaja itu sendiri.

Selama ini, mereka sering ditempatkan sebagai objek intervensi—yang harus diberi tahu, diarahkan, bahkan diatur.

Padahal, remaja memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Ketika mereka dilibatkan sebagai co-creator, muncul rasa memiliki terhadap pesan yang disampaikan.

Kampanye kesehatan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang “datang dari luar”, tetapi sebagai bagian dari identitas mereka.

Pada akhirnya, pencegahan merokok pada remaja bukan hanya tentang menjauhkan mereka dari rokok, tetapi tentang mendekatkan mereka pada sesuatu yang lebih bermakna.

Ketika remaja menemukan ruang untuk berkarya, mereka tidak lagi membutuhkan rokok sebagai simbol jati diri.

Mereka memiliki panggungnya sendiri—panggung kreativitas, keberanian, dan perubahan. Dan di saat itulah, rokok perlahan kehilangan panggungnya.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved