Opini
WFH dan Burnout Society
WFH pada awalnya dipandang sebagai solusi ideal di tengah perubahan dunia kerja modern terutama di era Covid-19.
Oleh: Muhammad Suryadi R
Direktur Eksekutif Parametric Development Center
TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam upaya meningkatkan efisiensi energi, pemerintah Indonesia mulai mendorong kebijakan Work From Home (WFH) selama satu hari dalam seminggu bagi sebagian aparatur dan sektor tertentu.
Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengurangi mobilitas harian, menekan konsumsi bahan bakar, serta mengurangi beban lalu lintas di kota-kota besar.
Secara sepintas, langkah ini tampak sebagai solusi rasional yang tidak hanya berdampak pada efisiensi energi, tetapi juga pada kualitas hidup pekerja.
Tetapi, di balik kebijakan yang tampak progresif ini, muncul pertanyaan mendasar, apakah WFH benar-benar menghadirkan kenyamanan, atau justru memperluas ruang kelelahan dalam kehidupan modern.
WFH pada awalnya dipandang sebagai solusi ideal di tengah perubahan dunia kerja modern terutama di era Covid-19.
Banyak orang membayangkan bekerja dari rumah adalah bentuk kebebasan baru, dimana pekerjaan tidak lagi dilakukan dari rumah panjang ke kantor, tanpa tekanan suasana formal, dan dengan waktu yang lebih fleksibel.
Rumah yang selama ini menjadi ruang istirahat, tiba-tiba berubah menjadi pusat aktivitas produktif.
Meski demikian, di balik kenyamanan itu, fleksibilitas WFH seringkali berubah menjadi ilusi.
Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi kabur.
Laptop yang selalu terbuka, notifikasi yang terus berdatangan, serta tuntutan untuk selalu siap membuat banyak orang sulit beristirahat.
Alih-alih bekerja lebih santai, banyak pekerja justru merasa jam kerjanya semakin panjang.
Rumah tidak lagi sepenuhnya menjadi tempat pulang, tetapi perpanjangan dari ruang kerja.
Burnout Society dan Paradoks Birokrasi
Fenomena kelelahan ini dijelaskan melalui konsep burnout society, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, dalam bukunya The Burnout Society.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-11-18-Muhammad-Suryadi-R-Peneliti-Parametric-Development-Center.jpg)