Opini
WFH dan Burnout Society
WFH pada awalnya dipandang sebagai solusi ideal di tengah perubahan dunia kerja modern terutama di era Covid-19.
Mencari Keseimbangan di Tengah Tuntutan
Dampak dari kondisi ini tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga secara sosial.
Burnout dapat menyebabkan kelelahan mental, kehilangan motivasi, hingga menurunnya kualitas hubungan dengan keluarga.
Hal ini suatu ironi tentu saja. Produktivitas yang diharapkan justru bisa menurun dalam jangka panjang.
Karena itu, menurut penulis, penting untuk menemukan kembali batas antara kerja dan kehidupan pribadi.
Individu perlu berani menetapkan jam kerja yang jelas dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Di sisi lain, organisasi juga perlu menciptakan budaya kerja yang lebih manusiawi, yang tidak menuntut ketersediaan tanpa batas.
Selain itu, kita juga perlu merenungkan ulang cara kita memaknai kerja itu sendiri.
Apakah kerja semata-mata tentang pencapaian dan produktivitas, ataukah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan yang seimbang dan bermakna?
Dalam logika burnout society, manusia cenderung mengukur dirinya dari seberapa banyak yang ia hasilkan.
Padahal, nilai hidup tidak selalu terletak pada output yang terlihat, tetapi juga pada kemampuan untuk merasakan, beristirahat, dan hadir secara utuh dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, rumah seharusnya tetap menjadi tempat pulang, dimana rumah menjadi ruang untuk memulihkan diri, refleksi diri, bukan sebagai tempat kerja tanpa akhir.
Dalam dunia yang terus mendorong kita untuk bergerak lebih cepat, mungkin yang paling kita butuhkan justru adalah kemampuan untuk jeda sejenak dan melepaskan lelah dari sebuah pekerjaan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-11-18-Muhammad-Suryadi-R-Peneliti-Parametric-Development-Center.jpg)