Saifullah Yusuf: Sowan Tanpa Panggung, Mencari Restu di Akar NU
Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf—yang akrab disapa Gus Ipul—tidak memilih panggung, tidak pula membangun narasi besar di ruang publik.
Ziarah bukan sekadar ritual spiritual, tetapi juga refleksi historis: bahwa kepemimpinan sejati dibangun dalam rentang panjang, melampaui satu generasi.
Ketika Gus Ipul juga berziarah ke makam ayahnya sendiri, KH Ahmad Yusuf Cholil, di situ ada dimensi personal yang tak bisa diabaikan. Ia mengingatkan bahwa di balik jabatan negara, ada akar keluarga, ada warisan nilai, ada tanggung jawab yang tidak pernah selesai.
Tentu, publik tidak naif. Dalam konteks kekuasaan, silaturahmi seperti ini juga bisa dibaca sebagai bagian dari konsolidasi sosial-politik. Tetapi yang menarik, dalam tradisi NU, politik tidak tampil vulgar. Ia hadir dengan adab.
Tidak ada panggung, tetapi pesannya sampai. Tidak ada deklarasi, tetapi maknanya terasa. Inilah gaya NU: kuat tanpa harus keras, dalam tanpa harus riuh.
Di tengah zaman ketika banyak pemimpin lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter, langkah Saifullah Yusuf ini memberi pelajaran sederhana: bahwa kekuasaan tetap membutuhkan akar.
Karena pada akhirnya, jabatan bisa memberi kewenangan, tetapi hanya nilai yang memberi legitimasi.
Dan mungkin, di situlah arti penting sowan tanpa panggung: ketika seorang pejabat memilih untuk kembali menjadi murid di hadapan sejarah.(*)
| Dua Ketua NU dan Kader PMII Gagal Jadi Rektor UIN di Sulsel |
|
|---|
| Kader Sulsel Dorong Prof KH Nasaruddin Umar Maju Calon Ketum PBNU |
|
|---|
| Pengadaan 39.345 Sepatu Sekolah Rakyat Rp27 Miliar Disorot, Harga per Pasang Rp700 Ribu |
|
|---|
| Pemkot-Kemensos Perkuat Sinergi, Makassar Siap Jadi Pilot Project Panti Sosial Bermutu |
|
|---|
| La Ilaha Illalahu Menggema di Masjid Tua Tosora Wajo pada Peringatan Harlah 92 GP Ansor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260325_SOWAN-PESANTREN_gus-ipul-sowan-ke-pesantren.jpg)