Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Saifullah Yusuf: Sowan Tanpa Panggung, Mencari Restu di Akar NU

Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf—yang akrab disapa Gus Ipul—tidak memilih panggung, tidak pula membangun narasi besar di ruang publik.

Tayang:
Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com/Dok Pribadi
SOWAN PESANTREN-Pendiri Sultan Hasanuddin Center Makassar dan Senior Ansor Sulsel, Makmur Idrus bersama Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf. Gus Ipul sowan ke pesantren-pesantren pendiri Nahdlatul Ulama di Jombang—Tebuireng, Tambakberas, dan Denanyar. 

Oleh: Makmur Idrus

(Pendiri Sultan Hasanuddin Center Makassar | Senior GP Ansor Sulsel)

TRIBUN-TIMUR.COM- Hari keempat Idulfitri 1447 H, Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf—yang akrab disapa Gus Ipul—tidak memilih panggung, tidak pula membangun narasi besar di ruang publik.

Ia justru mengambil jalan yang lebih sunyi: sowan ke pesantren-pesantren pendiri Nahdlatul Ulama di Jombang—Tebuireng, Tambakberas, dan Denanyar.

Sepintas, ini tampak sebagai tradisi silaturahmi biasa. Namun bagi yang memahami kultur NU, langkah ini jauh dari sekadar rutinitas. Ia adalah perjalanan simbolik—kembali ke akar, ke pusat moral yang selama ini menjadi penyangga peradaban keislaman Nusantara.

Tebuireng bukan hanya lokasi. Ia adalah sumber.

Di sana KH Hasyim Asy’ari menanam fondasi keilmuan, adab, dan kebangsaan. 

Ketika Gus Ipul menunaikan salat di masjid yang didirikan langsung oleh pendiri NU itu, ia tidak sekadar beribadah. 

Ia sedang meneguhkan keterhubungan dengan sejarah.

Baca juga: Mensos Saifullah Yusuf Jauh-jauh dari Jakarta Demi Bagi bantuan ke Korban Banjir Antang Makassar

Perjalanan berlanjut ke Tambakberas dan Denanyar—dua pesantren yang juga menjadi pilar penting dalam arsitektur keulamaan NU. Rangkaian ini seperti menyusuri jalur sanad, bukan hanya sanad ilmu, tetapi juga sanad kepemimpinan.

Di tengah hiruk-pikuk politik modern yang sering kali bising dan penuh pencitraan, langkah seperti ini terasa kontras. Tidak ada deklarasi, tidak ada slogan, tidak ada tepuk tangan. Yang ada justru keheningan yang sarat makna.

Pertemuan dengan para masyayikh—Gus Kikin, Gus Rozin, hingga para kiai sepuh lainnya—menunjukkan satu hal penting: dalam tradisi NU, legitimasi tidak dibangun dari atas, tetapi tumbuh dari bawah—dari pengakuan moral para penjaga tradisi.

Jaringan ini tidak hidup dalam struktur formal semata. Ia tumbuh dalam ruang-ruang kultural: di ndalem kiai, di serambi masjid, di antara percakapan sederhana yang tidak pernah masuk berita utama.

Namun justru di situlah kekuatan sejati itu berada.

Puncak dari rangkaian ini adalah ziarah ke makam para ulama, termasuk KH Bisri Syansuri.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved