Opini
Muhasabah Sepuluh: Tanam Katamu dengan Akar yang Kuat, Agar Ia Menjulang ke Langit
Ketika itu, kami ditunjukkan pohon besar di depan Pesantren IMMIM Tamalanrea.
Lapar hanya berdiam di perut. Kata-kata berdiam ditenggorokan, dan selalu ingin keluar.
Terutama ketika tubuh lelah, ketika jalanan macet, ketika pesan singkat datang dengan nada yang menyinggung.
Kita mungkin tak sadar betapa rapuhnya lisan yang menguntai kata.
Ia kecil, tapi bisa menjatuhkan martabat. Ia ringan, tapi bisa menimbulkan luka yang berat.
Dalam sebuah hadis, Nabi menyebut bahwa siapa yang tak meninggalkan perkataan dusta, Allah tak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.
Puasa, rupanya, bukan hanya soal tubuh yang menjauh dari dari makanan dan juga syahwat, tapi juga tentang lisan yang belajar diam, atau hanya mengeluarkan yang baik-baik saja.
Diam, bukan pasrah, melainkan sadar.
Kalimat yang baik seperti pohon. Ia tak lahir dari emosi sesaat.
Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih dalam: iman, mungkin. Atau kesadaran bahwa setiap kata punya jejak.
Akar yang menghunjam itu seperti keyakinan yang tak mudah goyah.
Orang yang lisannya terjaga bukan karena ia tak punya amarah, tapi karena ia tahu ke mana harus menambatkan amarahnya.
Cabangnya menjulang ke langit.
Tapi Ramadhan juga memperlihatkan pada kita pohon-pohon lain: kalimat yang buruk, yang tercabut dari akarnya.
Ia mungkin terdengar keras dan meyakinkan, tapi tak punya tanah untuk berpijak.
Ia cepat menyebar, cepat pula layu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Oleh-Salman-Ahmad-Alumnus-IMMIM-Pakar-Ikatan-Alumni-Timur-Tengah.jpg)