Opini
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai Kiprah Moral di Tengah Tantangan Era Post-Truth
Di tengah derasnya arus informasi era post-truth, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ditantang menjaga moralitas dan tradisi intelektual.
Ringkasan Berita:
- Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sejak berdiri pada 1964 konsisten menempatkan moralitas dan intelektualitas sebagai fondasi gerakan.
- Di era post-truth dan disrupsi digital, IMM dihadapkan pada tantangan masif berupa banjir opini, distorsi fakta, serta pelemahan kesadaran kritis kader.
- Penguatan literasi digital, dakwah inklusif, dan internalisasi nilai keislaman menjadi strategi penting agar IMM tetap relevan sebagai benteng moral, penggerak intelektual, dan penjaga etika sosial.
Oleh: Karwan Rumau
Wakil Sekretaris l DPD IMM Maluku
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan sayap pergerakan Persyarikatan Muhammadiyah yang bersentuhan langsung dengan dunia kemahasiswaan.
Sejak berdiri pada 14 Maret 1964, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) telah merajut sejarah panjang di tengah dinamika bangsa Indonesia yang kerap diporak-porandakan oleh persoalan ekonomi, politik, serta praktik korupsi yang dinormalisasi oleh sebagian elite intelektual.
Kondisi tersebut berdampak pada kemiskinan struktural dan kerusakan tatanan sosial.
Di tengah kondisi itu, IMM hadir sebagai ruang pendidikan moral dan intelektual bagi kader-kadernya agar tetap bertahan dalam kesadaran kritis serta tidak terjerumus dalam praktik koruptif yang merusak mental dan moral.
Pendidikan moral dan intelektual menjadi pijakan utama dalam setiap ruang diskursus IMM, sebab moralitas merupakan pemandu utama dalam tindakan manusia.
IMM telah lama menjadi ladang pembinaan mental, moral, dan intelektual kader muda Muhammadiyah.
Hal ini bukanlah wacana baru.
Dalam rentetan sejarahnya, IMM tercatat sebagai organisasi yang memprioritaskan moralitas dan intelektualitas sebagai dua pilar utama pergerakan.
Pemikiran Jean-Paul Sartre, misalnya, menegaskan bahwa manusia bebas memilih tindakannya, namun moralitas menuntut manusia untuk menghormati orang lain dalam kebebasan tersebut.
Pandangan ini mengisyaratkan bahwa rusaknya moral akan berdampak langsung pada tindakan dan kebijakan yang diambil dalam kehidupan sosial maupun politik.
Memasuki era post-truth, ketika arus informasi bergerak cepat dan opini sering kali lebih berpengaruh daripada fakta, kader IMM dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks.
Dakwah intelektual dan moral harus terus dilakukan agar kader tidak tercerabut dari nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan yang menjadi warisan ideologis IMM.
Era disrupsi digital membawa IMM pada persimpangan antara kemajuan dan kemunduran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-4-feb-imm.jpg)