Opini
Muhasabah Awal Tahun Baru Perspektif Hadis dan Tasawuf
Sebaliknya orang hanya berangan-angan tanpa muhasabah mendapatkan mudarat di dunia dan di akhirat (HR. Turmuzi: 2383).
Oleh: Machmud Suyuti
Dosen Hadis UIM dan Katib Aam Jam’iyah Khalwatiyah
TRIBUN-TIMUR.COM - MUHASABAH, evaluasi amal perbuatan yang telah dilakukan tahun sebelumnya sebagai bekal untuk tahun baru relevan dengan firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-Hasyr/59:18).
Hadis-hadis tentang Muhasabah
Nabi SAW bersabda “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia beruntung, siapa yang hari ini sama hari kemarin maka dia merugi dan bagi mereka yang hari ini lebih dari hari kemarin maka dia celaka (HR. Bukhari-Muslim).
Orang yang selalu muhasabah dan diikutsertakan dengan kebaikan mereka akan mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak.
Sebaliknya orang hanya berangan-angan tanpa muhasabah mendapatkan mudarat di dunia dan di akhirat (HR. Turmuzi: 2383).
Bermuhasabahlah kalian, hisablah dirimu di dunia sebelum engkau dihisap di hari kemudian (HR. Ibnu Majah: 4250 dan Ahmad bin Hanbal: 16501).
Hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia (HR. Imam Turmudzi: 2384).
Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran bahwa ia berkata, seoarng hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisabnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya (Muwaththa Malik: 984).
Hadis-hadis yang disebutkan di atas sebagai motivasi pentingnya muhasabah, instropeksi diri, mengevalusi atas apa saja yang telah dilakukan tahun sebelumnya dengan harapan memasuki tahun baru 2026 ini lebih baik, lebih bermafaat, lebih mendatangkan kebahagiaan, kesuksesan, keberhasilan dan segala cita-cita yang tertunda segera terwujud di tahun ini.
Urgensi Muhasabah
Muhasabah adalah intropeksi diri dan refleksi dalam mengawali tahun baru. Pergantian tahun masehi dari 2025 ke 2026 berlaku untuk umat Islam.
Hal ini dipahami dari segi penanggalan tahun masehi dipakai untuk menentukan waktu ibadah seperti jadwal salat.
Sejak masa Nabi SAW masuknya waktu salat sepenuhnya ditentukan oleh pergerakan waktu tahun syamsiah dan sama sekali tidak berurusan dengan pergerakan qamariah.
Karena itu setiap pergantian tahun baru masehi sangat dianjurkan muhasabah dengan cara berniat memperbaiki diri, kita dilarang menyesali pergantian tahun, bahkan Nabi SAW melarang mencela perputaran waktu pergantian tahun baru.
Hadis dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW bersabda: Jangan kalian mengutuk waktu karena Allah adalah waktu (HR Muslim dan Ahmad).
Muhasabah atau evaluasi diri memasuki tahun baru sebagai kunci pertama dari kesuksesan yang disertasu action after evaluation yakni setelah muhasabah harus ada aksi perbaikan.
Jadi muhasabah tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut dalam upaya menata masa depan.
Sukses-tidaknya seseorang sangat bergantung pada kemampuan muhasabahnya. Seberapa banyak kebaikan yang diperbuat dan seberapa besar kesalahan yang telah dilakukan.
Jika output dari muhasabah itu dari hasil hitungan dominan postif maka sejatinya lebih banyak bersyukur. Tetapi jika negatif maka sejatinya istighfar dan bertaubat agar tidak terulang di hari esok.
Muhasabah dalam Dunia Tasawuf
Perspektif tasawuf, muhasabah meliputi takhalli, tahalli, dan tajalli. Dari ketiga aspek ini, kha adalah melepaskan diri dari perangai yang tercela, ha adalah menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan jim adalah mendekatkan diri kepada Tuhan.
Pentingnya takhalli disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Al-Syams/91: 9-10).
Selanjutnya tentang tahalli, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. al-Nahl/16: 90).
Sedangkan tajalli, “Maka Kami bukakan tirai yang menutupi engkau, oleh sebab itu pandangan engkau amatlah terangnya” (QS. Qaaf/50: 22).
Pada maqam tajalli ini, seseorang telah sampai pada puncak makrifat, selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Makrifat merupakan ahwal tertinggi, yang datangnya sesuai atau sejalan dengan ketekunan, kerajinan, kepatuhan, dan ketaatan seseorang.
Karena itu sejak dini, sejak awal memasuki tahun baru ini langkah awal yang harus dilakukan adalah mensucikan diri dengan cara menghindarkan diri dari segala perbuatan tercelah.
Ajaran tasawwuf Syekh Yusuf al-Makassariy menekankan pentingnya kesucian batin dengan cara menghindari hasad, riya, gibah, kizb atau dusta dan penyakit-penyakit hati lainnya yang oleh Puang Ramma meringkasnya dalam pesan petuah bahasa Bugis “Padecengi Atinnu” yakni sucikan hatimu, bersihkan hatimu, atau perbaiki hatimu.
Mursyid tarekat Khalwatiyah Yusuf ke-11 tersebut yang bernama lengkap Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf Puang Ramma kemudian menegaskan bahwa dalam implementasi dari muhasabah adalah tawadhu yang dititahkan dalam tausiah “Alai Sifa’na Waede” ambillah sifatnya air.
Sifat sekaligus zat air adalah mensucikan sebagai simbol bagi manusia agar selalu dalam keadan suci dan bersih secara lahir maupun batin. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.
| Konsekuensi Pemisahan Rezim Pemilu Nasional dan Lokal: Transformasi Kaderisasi Berbasis Kinerja |
|
|---|
| Anomali Intervensi Komisi III DPR Dalam Penegakan Hukum |
|
|---|
| Mencari Kewenangan di Tengah Jalan Berlubang |
|
|---|
| Membaca Arah Industrialisasi Nikel dari Lingkar Tambang Kolaka |
|
|---|
| Urgensi Penetapan Lokasi Pelaksanaan Pidana Kerja Sosial oleh Pemerintah Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/opini-mahmud-suyuti-1.jpg)