Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Tidak Cukup dengan Mencari Panggung: Menata Kembali Mindset Komunikasi Bencana

Kehadiran mereka patut diapresiasi karena pada prinsipnya, aksi ini dapat menggerakkan kepedulian publik dan mempercepat aliran bantuan

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sakinah Sudin
Dokumentasi Pribadi
OPINI - Potret Adityar, bloger dan pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin. Adityar menyorotikehadiran tokoh publik di tengah duka bencana yang menelan ribuan korban di Sumatera. 

Oleh Adityar

Bloger dan pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin

TRIBUN-TIMUR.COM - Saat tulisan ini disusun, jumlah korban jiwa akibat bencana di Sumatera telah mencapai 1.016 orang, sementara 624.670 orang lainnya masih harus mengungsi (Sumber: Tribunnews, 15 Desember 2025).

Di balik angka-angka tersebut, ada kisah manusia yang jauh lebih pilu: di situ ada anak yang kehilangan ibu, ayah yang tidak bisa menemukan anaknya, serta istri yang harus merelakan suaminya.

Sisanya, harus mengungsi, menghadapi pelayanan publik yang lumpuh, dan entah berapa keluarga yang mendapati rumah yang sudah rata dengan tanah.

Di tengah duka yang begitu dalam ini, tokoh-tokoh publik baik pejabat maupun selebritas berupaya hadir melalui penggalangan donasi dan visitasi ke lokasi.

Kehadiran mereka patut diapresiasi karena pada prinsipnya, aksi ini dapat menggerakkan kepedulian publik dan mempercepat aliran bantuan.

Namun di balik apresiasi tersebut, sebagian aksi ini juga memunculkan respons kritis dari masyarakat.

Tidak sedikit warganet yang memberikan komentar bernada negatif, baik melalui platform X (Twitter) maupun kolom komentar di media lain, menyoroti bagaimana sejumlah public figure tampil di depan kamera dalam situasi krisis.

Public figure, baik dari pemerintah maupun selebritas, memang memiliki peran yang ambivalen.

Di satu sisi, kehadiran mereka baik secara virtual atau fisik di lokasi dapat menggerakkan perhatian publik sehingga penggalangan bantuan dapat lebih cepat dilakukan.

Namun di sisi lain, ketika kehadiran itu terjebak dalam logika pencitraan, intervensi mereka pada saat bencana justru menjadi bagian dari masalah.

Fenomena ini tampak makin jelas ketika momentum krisis digunakan sebagai ruang untuk menaikkan visibilitas personal alih-alih sebagai upaya mempercepat pemulihan bagi para korban.

Kritik publik dan perubahan perilaku audiens digital

Aksi-aksi heroik yang dilakukan para tokoh publik ini mendapatkan reaksi yang beragam dari warganet.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved