Opini
Dasi kupu-kupu
Ammar menyusul di belakang berjalan pelan dengan jas hujan yang masih melekat.
Penulis: H. Alim Bahri Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Gowa
Gelo berjalan cepat menuju warung makan yang ramai pembeli.
Hujan yang turun sejak pagi menyisakan beberapa genangan kecil di pelataran warung makan tempat Gelo dan Ammar biasa berhutang.
Ammar menyusul di belakang berjalan pelan dengan jas hujan yang masih melekat.
Tidak jauh dari warung makan langganan mereka berdua berdiri bangunan baru nan megah yakni Kantor kementerian haji dan umrah kabupaten Gowa.
Gelo memandang ke arah kantor baru itu.
Terlihat beberapa pegawai di bagian depan kantor yang terlihat bersih.
Mata Gelo memperhatikan seksama penampilan para pegawai kementerian haji dan umrah yang berjalan di halaman depan kantor.
Bila orang banyak terbiasa melihat para pejabat atau pegawai memakai setelan jas lengkap dengan dasi serta pernak pernik pakaian lainnya maka apa yang dikenakan oleh pegawai kementerian yang baru seumuran jagung ini sangat berbeda.
Kementerian haji dan umrah tampil dengan style yang sangat berbeda.
Ya, sangat berbeda.
Para pegawai Kementerian haji dan umrah yang disingkat Kemenhaj tampil percaya diri mengenakan kemeja putih, jas hitam, kopiah hitam, sarung batik dan, nah ini nih yang membedakan dengan pakaian dinas instansi lainnya yakni dasi kupu-kupu.
"Aneh seragam pegawai kemenhaj ya," kata Gelo sambil membakar rokok.
"Aneh gimana?" Ammar balik bertanya ke Gelo sambil memesan kopi susu.
"Ya aneh saja. Seragam kok pakai sarung dan dasi kupu-kupu."
"Lah kamunya justru yang aneh, Gelo." Balas Ammar.
"Apa yang kamu pertama kali lihat kamu langsung menganggapnya aneh."
"Iyalah, emang aneh kok," Gelo tak mau kalah.
"Apanya yang aneh?" Balas Ammar sengit.
"Kamu tahu apa filosofi pakaian yang dikenakan oleh pegawai kemenhaj itu yang katakan aneh tadi?" Kali ini Ammar mode serius langsung ON
"Tidak tahu" pendek Gelo menjawab sambil geleng kepala.
"Begini, alasan di balik keputusan untuk menjadikan seragam PSL (Pakaian Sarung Lengkap) itu bukan keputusan yang mengada-ada. Ada referensi historis yang merujuk kepada para tokoh kemerdekaan yang selalu mengenakan jas, sarung, kopiah dan dasi kupu-kupu." Ammar mulai menjelaskan pelan agar Gelo yang pernah tinggal kelas dua tahun di SD dan masing-masing setahun di SMP dan SMA bisa paham.
"Dulu saat jaman awal pergerakan nasionalisme, para tokoh yang umumnya telah berhaji berusaha keras menabrak strereotipe bahwa semua kaum pribumi itu bodoh dan terbelakang.
Pihak kolonial menganggap kaum pribumi itu kolot, malas, bodoh dan kampungan." Jelas Ammar.
"Emang orang pribumi itu dulunya begitu?" Tanya Gelo polos.
"Ya tidaklah, justru anggapan bahwa semua kaum pribumi itu bodoh, terbelakang, tidak intelek atau apapun anggapan miring lainnya itulah yang dilawan." Nada suara Ammar makin bersemangat menjelaskan ke Gelo.
"Para pelopor gerakan nasionalisme ini berusaha menampilkan sosok sebagai kaum modern, terpelajar dan bermartabat tapi tetap tidak melepaskan identitas budaya dan keislaman yang melekat kuat.
Sarung itu kan simbol bernuansa tradisi dan keagamaan sedangkan kopiah sebagai simbol nasionalisme kita.
Jas dan dasi kupu-kupu yang dikenakan oleh para bapak bangsa itu sebagai penanda jelas bahwa kaum pribumi juga adalah kaum yang terdidik, cerdas serta tidak ketinggalan jaman.
Perpaduan pakaian inilah yang kemudian dikenakan oleh para pelopor gerakan nasionalisme seperti H.Agus Salim, KH.Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan dan Haji Oemar Said Tjokroaminoto.
Para bapak bangsa ini sukses memadukan tradisi dan kemoderenan melalui setelan yang dikenakan.
Nah, cara berpakaian para tokoh besar inilah yang kemudian diikuti oleh generasi sesudahnya khususnya lagi yang telah menunaikan ibadah haji.
Dulu ada jargon "otak Jerman, hati Makkah" yang populer di jaman BJ.Habibie.
Maka seperti itu jugalah para bapak bangsa kita di fase awal menatap cita-cita kemerdekaan.
Kaum pribumi tetap mengejar modernitas sebagai ikon kemajuan tetapi tidak meninggalkan jejak tradisi dan agama.
Kira-kira begitu, Gelo." Papar Ammar panjang lebar.
"Hmm, saya mulai paham," ucap Gelo tersenyum.
"Ya, jadi sekali lagi pakaian PSL kemenhaj ini yang kamu katakan aneh tadi ternyata memiliki filosofi yang sarat makna dan nilai historis."
Ammar melanjutkan lagi.
"Ini juga tentu saja menjadi pembeda kemenhaj dengan kementerian lainnya, Gelo," jelas Ammar lancar.
"PSL kemenhaj ini dipakai setiap hari?"
"Ya tidaklah, setiap hari kamis saja dan di setiap kegiatan seremonial di lingkup kemenhaj," ujar Ammar
"Dan pada hari lain juga ada pakaian seragam kemenhaj karena ada keputusan resmi terkait pakaian bagi pegawai kemenhaj." Kata Ammar menambahkan.
"Pakaian PSL kemenhaj ini kesannya sangat berkelas " kata Gelo bernada kagum
"Dibilang berkelas dan stylish emang iya. Harapan dari bapak menteri dan wakil menteri kemenhaj ini agar semangat yang ada di setelan PSL ini menjadi pemicu dan pemacu semangat para pejabat dan pegawai kemenaj untuk menjadi teladan.
PSL ini diharapkan bisa menjadi menginspirasi para pejabat dan pegawai kemenhaj untuk menunjukkan integritas dan kompetensi dalam bekerja persis seperti para bapak bangsa kita terdahulu.
Jadi PSL ini memiliki maksud dan tujuan yang mulia." Ungkap Ammar tenang berharap Gelo bisa mengerti.
"Dan diketahui bahwa khusus bicara tentang dasi kupu-kupu ini maka kamu harus tahu bahwa ternyata dasi kupu-kupu memiliki sejarah panjang loh. Di mulai abad ke-17 pada pria dewasa mengenakan syal atau kain yang dilikitkan di leher untuk menahan kemeja bagian atas agar tidak terbuka. Kain ini yang kemudian dinamakan Cravat. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Cravat ini berevolusi menjadi dasi panjang dan dasi kupu-kupu yang dalam bahasa inggris disebut bowtie." Beber Ammar.
"Terus?" Gelo makin penasaran.
"Nah, dasi kupu-kupu kemudian menjadi aksesori pakaian pria yang ikonik di dunia mode pria kalangan atas.
Dasi kupu-kupu ini menunjukkan kreatifitas, kualitas dan bonafiditas bagi para pemakainya.
Bahkan luar biasanya lagi, Amerika memiliki hari dasi kupu-kupu nasional.
Setiap tanggal 28 agustus rakyat Amerika merayakan national bow ties day atau hari dasi kupu-kupu nasional.
Di tanggal 28 agustus ini orang-orang Amerika memakai dasi kupu-kupu di kantor, sekolah atau di mana saja.
Mereka begitu bangga memakai dasi kupu-kupu beraktifitas pada hari perayaan itu.
"Kalau begitu, berarti pegawai kemenhaj beruntung memiliki PSL yang memakai dasi kupu-kupu itu." Kata Gelo terkagum-kagum.
Matanya menatap Ammar yang terlihat puas bisa menjelaskan panjang lebar khusus tentang dasi kupu-kupu lengkap dengan historisitasnya.
"Tapi bagi saya tetap ada yang aneh," Gelo menatap Ammar sambil menutup mulutnya menahan geli.
"Apa lagi yang aneh, Gelo. Kan saya sudah jelaskan semua." Kali ini nada suara Ammar mulai agak jengkel.
"Bukan kemenhaj yang aneh tapi kamu yang aneh, Ammar." Kata Gelo dengan senyum tertahan.
"Saya yang aneh? Aneh gimana?" Tanya Ammar berkerut kening.
"Ya kamu aneh, Ammar. karena kamu ingin meniru pakaian kemenhaj yang mengenakan kopiah, dasi kupu-kupu dan jas hitam.
Tapi masalahnya kamu ini memakai jas hujan, bukannya jas hitam!"
Sembur Gelo tertawa terbahak.
"Oh iya ya, sori" ucap Ammar menahan malu sambil segera melepas jas hujannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/H-Alim-BahriKepala-Kantor-Kementerian-Haji-dan-Umrah-Gowa.jpg)