Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ultimatum dari Serambi Mekkah, Konflik Beras Sabang Menguji Otonomi Daerah

Penyegelan 250 ton beras impor di Sabang, Aceh oleh Kementerian Pertanian (Kementan) telah melampaui dimensi insiden logistik dan bertransformasi

Tayang:
Editor: Edi Sumardi
DOK PRIBADI HASRULLAH
PENULIS OPINI - Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Hasrullah dalam sebuah acara beberapa waktu lalu. Dia menulai, penyegelan 250 ton beras impor di Sabang, Aceh oleh Kementerian Pertanian memicu sengketa hukum tata negara serius mengenai benturan kewenangan antara regulasi pangan nasional yang sentralistik dengan prinsip Otonomi Khusus Aceh dan status Kawasan Perdagangan Bebas Sabang. 

Posisi Kementan (Sentralistik) bersandar pada kewenangan eksklusif atas kedaulatan pangan nasional dan stabilitas pasar.

Tindakan penyegelan dibenarkan berdasarkan ketiadaan Persetujuan Impor, menegaskan bahwa kontrol komoditas strategis merupakan kewenangan non-delegable yang wajib ditegakkan secara seragam (Asas Sentralisasi), mengesampingkan kekhususan FTZ demi perlindungan petani nasional.

Sementara itu, Posisi Pemerintah Aceh (Otonomi Khusus) dan BPKS berpegangan pada hak derivatif dan kewenangan diskresi yang dijamin oleh Undang-Undang Kekhususan. 

Mereka menjustifikasi impor sebagai kebijakan strategis otonom untuk menjaga stabilitas harga lokal, sekaligus menuntut penegakan Asas Sinkronisasi dan Koordinasi. Mereka menganggap kewenangan tata niaga di KPBPB tidak sepenuhnya tunduk pada regulasi impor umum.

Terakhir, Posisi Akademisi (Kritik Konstitusional) ditujukan pada validitas prosedural dan keabsahan normatif.

Tindakan Kementan dianggap melanggar asas due process of law dan prinsip hubungan antar-pemerintahan, karena dilaksanakan secara sepihak dan inkonsisten dengan hierarki perundang-undangan yang seharusnya menghormati mekanisme institusional daerah otonomi khusus.

Sengketa beras Sabang ini adalah sebuah uji litmus (litmus test) bagi efektivitas Asas Desentralisasi di Indonesia.

Jika interpretasi hukum yang sentralistik oleh Kementan dibiarkan mendominasi, ini akan menciptakan preseden buruk yang mendegradasi efektivitas Lex Specialis dan berpotensi memicu ketidakpercayaan institusional yang mendalam. 

Ultimatum ini berfungsi sebagai alarm epistemologis yang menuntut peninjauan kembali terhadap kerangka regulasi.

Penyelesaian masalah ini, baik melalui pencabutan perintah segel secara administratif atau melalui putusan Mahkamah Konstitusi, akan menjadi penentu penting dalam mendefinisikan batas yurisdiksi kewenangan dan memastikan bahwa otonomi daerah tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga realitas hukum yang memiliki daya ikat tertinggi di wilayah khusus.

Negara harus memilih menghormati konsensus hukum otonomi yang telah disahkan, atau mempertaruhkan erosi legitimasi Lex Specialis di mata publik.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved