Opini Mustamin Raga
Literasi dan Kemiskinan
Literasi bukan sekadar membaca, tapi cahaya yang menuntun keluar dari kemiskinan pikiran. Tanpa literasi, bantuan hanya menenangkan lapar sesaat.
Mereka tidak kekurangan mimpi, hanya kekurangan peta untuk sampai ke sana. Dan di situlah literasi bekerja—membuka jalan bagi akal untuk menjemput takdirnya sendiri.
Memberi Tanpa Menyentuh Jiwa
Kita sering merasa telah berbuat baik ketika memberi bantuan kepada kaum miskin.
Kita berikan sembako, uang tunai, atau program sosial yang dibungkus istilah mulia: bantuan langsung, bantuan produktif, bantuan sosial bersyarat.
Namun bila bantuan itu tidak menyentuh hati, pikiran, dan kesadarannya, maka sesungguhnya kita hanya memadamkan api lapar sesaat, bukan menyalakan lilin penerangan jangka panjang.
Memberi barang tanpa menyalakan kesadaran bagaikan menambal atap bocor dengan kertas: tampak menutup, tapi tak menahan hujan.
Atau seperti menanam benih di tanah yang belum dicangkul—sekalipun bijinya unggul, ia takkan tumbuh. Bantuan yang sejati adalah ketika kita menyertakan pengetahuan dalam setiap pemberian.
Bukan hanya memberi ikan, tetapi mengajarkan cara menangkapnya, memahami ekosistemnya, dan mengelola hasilnya.
Bantuan tanpa literasi hanya menenangkan lapar, tapi tidak mengubah takdir.
Negeri yang Membaca Tapi Tak Mengerti
Kita sering bangga: angka melek huruf naik, perpustakaan tumbuh, internet murah, dan sekolah menjamur. Namun, apakah benar rakyat kita melek literasi?
Membaca bukan sekadar mengenal huruf, melainkan memahami arah dunia. Lihatlah linimasa kita: begitu banyak informasi, tapi sedikit pengetahuan. Banjir data tapi kekeringan makna.
Kita membaca berita bohong, percaya pada rumor, dan memaki sebelum meneliti.
Itulah kemiskinan bentuk baru: kemiskinan yang berbusana digital.
Orang yang miskin literasi akan mudah diatur, digiring, dan ditipu.
Mereka menjadi pasar empuk bagi politisi licik dan pedagang ilusi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-10-17-mustamin.jpg)