Opini Mustamin Raga
Literasi dan Kemiskinan
Literasi bukan sekadar membaca, tapi cahaya yang menuntun keluar dari kemiskinan pikiran. Tanpa literasi, bantuan hanya menenangkan lapar sesaat.
Kemiskinan yang paling sulit diberantas bukan yang hidup di perut, tapi yang berakar di kepala.
Ia tumbuh dari kebodohan yang dipelihara, dari ketidakmauan belajar, dari keyakinan bahwa nasib tak bisa diubah.
Orang yang miskin pikirannya akan tetap miskin meski diberi uang. Sebaliknya, orang yang kaya pikirannya akan mencari jalan keluar bahkan dalam kesulitan paling gelap.
Kita hidup di negeri yang sekolahnya banyak, tapi yang belajar sungguh-sungguh sedikit.
Kita punya jutaan lulusan tiap tahun, tapi hanya sedikit yang benar-benar paham arti belajar.
Kita mengagungkan gelar, tapi melupakan hikmah. Kita menghormati ijazah, tapi menyingkirkan akal sehat.
Dan ketika pengetahuan hanya berhenti di kertas, kemiskinan intelektual pun beranak-pinak.
Ia melahirkan pejabat yang berpendidikan tapi korup, politisi yang pintar bicara tapi miskin nurani, rakyat yang mudah tertipu karena malas membaca.
Inilah bentuk baru dari kemiskinan—kemiskinan yang menyaru menjadi modernitas.
Literasi: Cahaya di Lorong Gelap
Literasi adalah pelita kecil di lorong panjang kemiskinan.
Ia tidak serta-merta memberi makanan, tapi menuntun tangan menuju ladang pengetahuan tempat rezeki sejati tumbuh.
Membaca bukan sekadar mengeja huruf, tapi menghidupkan kembali kesadaran yang lama tertidur.
Bila kemiskinan adalah malam panjang, maka literasi adalah subuh yang pelan-pelan datang membawa cahaya.
Namun cahaya itu sering tertahan di batas rumah orang miskin. Bukan karena mereka menolak, tetapi karena tak ada yang menyalakan lampu di sana.
Anak-anak dari keluarga miskin sering kehilangan akses pada buku, pada guru yang sabar, pada lingkungan yang menghargai berpikir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-10-17-mustamin.jpg)