Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Refleksi Bola Bundar

Refleksi Bola Bundar: Ada Apa Bernardo Tavares

Tavares boleh jadi tak biasa hadapi tekanan. Tekanan  dari prestasi PSM dalam 4 kali pertandingan berakhir seri, 1kali kalah, dan baru sekali menang

Tayang:
Editor: AS Kambie
Ist
PENULIS OPINI - Foto M Dahlan Abubakar, Penulis Buku “Ramang Macan Bola”, yang dikirim ke Tribun-Timur.com untuk pada 22 September 2025 untuk melengkapi tulisan opininya. M Dahlan Abubakar adalah wartawan senior yang juga aktif menulis buku. 

Oleh: M Dahlan Abubakar

Penulis Buku “Satu Abad PSM Mengukir Sejarah”

TRIBUN-TIMUR.COM - Seorang teman mengirim sebuah berita yang cukup mengagetkan. Berita tersebut bersumber dari akun media sosial pelatih PSM Bernardo Tavares yang menyebutkan akan mengundurkan diri sebagai pelatih tim “Juku Eja”.

Alasan mundur dari tim yang pernah dia antar sebagai Juara Liga I BRI tahun 2023/2024 adalah persoalan gaji. Pelatih asal Portugal ini mengeluhkan pembayaran gaji yang sudah berlangsung selama tiga bulan.

Persoalan gaji pelatih dan pemain PSM, sebenarnya bukan baru kali ini, melainkan terjadi juga beberapa tahun silam.  

Pelatih dan pemain sudah memahami manajemen tetap berusaha memenuhi kewajiban terhadap pelatih dan pemain. Pertanyaan yang muncul, biasanya lebih dulu memprotes soal gaji ini adalah para pemain. Ini menjadi sebuah pertanyaan besar, apa sebenarnya yang bergulir di benak pelatih yang sudah tiga musim menukangi PSM ini.

 Setidak-tidaknya, ada beberapa hal yang saya duga tersembunyi di balik pengumuman pengunduran diri Tavares ini.

Pertama, Tavares boleh jadi tidak biasa menghadapi tekanan. Tekanan  dari prestasi PSM dalam empat kali pertandingan berakhir seri, satu kali kalah, dan baru satu kali menang.

Boleh jadi ada suara dari eksternal yang menyarankan pelatih melakukan sesuatu. Misalnya, Tavares terlalu sering melakukan eksperimen pemain menghadapi suatu tim.  

Saya melihat, saat PSM berhadapan dengan PSIM Yogyakarta, Abu Kamara Razard justru dibakucdangankan. Padahal, saat berhadapan dengan Persija, pemain asal Liberia ini berhasil mencetak gol kedua. 

Ternyata saat pertandingan berlangsung, PSM tidak dapat menemukan ruang yang terbuka untuk mencetak gol, terutama bersumber dari umpan-umpan pemain sayap. 

 Jika pun Tavares sudah menduga bahwa strategi yang dia terapkan pada saat melawan Persija dan menang, akan menjadi bahan diskusi tim lawan, sejatihnya dia mengubah strategi dengan mempelajari balik bagaimana strategi penampilan PSIM, terutama ketika dia memenangkan pertandingan. Jika ini dilakukan yang terjadi justru muncul “kontra-strategi”. 

 Boleh jadi inilah yang membuat suporter – sesuai informasi yang saya peroleh – ingin bertemu dengan Tavares. Mereka ingin menyampaikan masukan karena dalam lima kali tampil PSM tampil kurang maksimal dan hanya sekali menang.

Masukan dari suporter ini  juga penting diakomodasi sebagai bentuk dukungan mereka terhadap tim. Apalagi suporter PSM itu terkenal kritis.  

 Berkaitan dengan masalah suporter ini, saya teringat dengan “Komisi Delapan” yang berjaya pada tahun 1980-an akhir dan awal 1990-an. Komisi yang terdiri atas orang-orang dari profesi yang beragam ini selalu hadir pada setiap PSM berlatih. Mereka mengamati setiap penampilan pemain.

Mengomentari, menganalisis, dan menyimpulkan penampilan pemain tersebut. Untuk urusan seperti ini, mereka rela berdiskusi hingga magrib baru bubar.

Masukan dari suporter ini mungkin ada relasinya dengan idiom yang menyebutkan bahwa “penonton jauh lebih pintar”.  Kita pahami ini karena banyak mata yang mengamati jalannya pertandingan, sehingga mudah menilai seorang pemain. 

 Kedua, besar kemungkinan dengan informasi pengunduran dirinya itu,  Tavares sedang mencari justifikasi untuk membidik klub lain. Hal ini saya melihat dari cara dia menyampaikan keinginan pengunduran dirinya. Dia hanya menyampaikan melalui akun media sosial instragram pribadinya dengan alasan yang sebenarnya sudah sering dialami.

Manajemen PSM mungkin juga baru mendengar setelah ada media yang memberitakan dan membaca akun instagramnya. Mengapa hal itu tidak disampaikan langsung kepada manajemen. Sebab, pada saat direkrut menjadi pelatih PSM, dia melalui jalur formal. Melalui proses administrasi yang baku menurut aturan perekrutan seorang pelatih. 

 Terlepas dari sukses membawa PSM menjadi juara Liga 1 dan prestasi internasional di Kawasan ASEAN, persoalan bahasa dalam komunikasi  Tavares dengan para pemain merupakan problem yang dihadapi rata-rata pelatih asing. Sehingga, kadang-kadang ada hal yang hendak dikomunikasikan tidak efektif.

Karena penyampaian pesan lebih banyak berlangsung dalam bentuk komunikasi nonverbal yang jelas pemahamannya kerap tidak sesuai dengan kalau menggunakan komunikasi verbal.  

Jika benar Bernado Tavares sudah bulat meninggalkan PSM, manajemen harus berani menggunakan pelatih lokal. Tokh banyak pelatih lokal kita yang berkualitas. Yang menguntungkan, pelatih lokal bisa lebih mudah dalam berkomunikasi dengan pemain, meskipun ada beberapa pemain asing. 

Namun dominan kita memiliki pemain lokal sehingga dalam berkomunikasi lebih efektif. Untuk pemain asing, jelas pelatih juga menguasai beberapa kata kunci yang kerap digunakan dalam kamus sepak bola. Ayo ewako PSM. (*).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved