Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Sains, Praktik dan Pendidikan

Kota di selatan Australia yang hening dibanding kota lainnya di benua kangguru itu.

Editor: Sudirman
Istimewa/ist
OPINI - Anshar Saud - Dosen Farmasi Sosial dan Farmakoekonomi Universitas Hasanuddin, Penggiat Tamalanrea School   

Oleh: Anshar Saud

Dosen Farmasi Sosial dan Farmakoekonomi Universitas Hasanuddin, Penggiat Tamalanrea School
 
TRIBUN-TIMUR.COM - UDARA terasa dingin menusuk ketika malam itu kami tiba di Adelaide Airport pertengahan Desember 2025.

Kota di selatan Australia yang hening dibanding kota lainnya di benua kangguru itu.

Australasian Pharmaceutical Science Association (APSA) Annual Conference 2025 berlangsung 7-10 Desember di University of South Australia itu dihadiri para peneliti farmasi dan kesehatan dunia bertema "Advancing Together: Science, Practice and Education in Health".

Dibuka dengan pidato utama Andrew Wilson yang membahas “The Future of PBS: Balancing Equity, Access and Affordability in the New World Order”.

Ia membahas tentang Pharmaceutical Benefit Scheme (PBS), sebuah program subsidi obat dari pemerintah federal untuk menjamin akses harga terjangkau bagi penduduk Australia.  

Skema ini mencakup ribuan jenis obat yang ditetapkan harganya secara negoisasi dengan produsen, kemudian disalurkan melalui apotek dan fasilitas kesehatan-dengan hanya membayar sebagian (co-payment), sementara selisihnya dibayarkan pemerintah.

Materi terakhir yang menarik adalah dari Michael Wards yang berjudul "An Accidental Pharmacist: History Beneath, Mentors Behind, Opportunities Ahead".

Tentang pendidikan farmasi di Australia yang dimulai tahun 1920-an dengan sistem magang, kemudian berkembang tahun 1960-an menjadi sistem perkuliahan 3-4 tahun di sela tantangan beberapa anggota university council yang melihat farmasis terutama bekerja sebagai penjaga toko dari pada anggota profesi sejati.

Rupanya pola awal “melihat” profesi farmasi hampir sama di seluruh dunia. Tidak hanya di Indonesia, Australia, bahkan Amerika.

Ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat (1976) Warren Burger menyulut protes keras ketika menyebutkan bahwa farmasis tidak lebih profesional dari pegawai toko yang menjual buku-buku illmu hukum (Flannery, Buerki & Higby, 2007).

Hal  itu memicu perdebatan luas di kalangan profesi farmasi tentang peran mereka dan hak masyarakat atas informasi tentang harga obat, yang berdampak pada praktik farmasi dan peraturan periklanan.

Bagi farmasis Paman Sam, ia meremehkan peran penting mereka dalam perawatan pasien, konseling obat, dan kesehatan masyarakat.

Area Tantangan Utama

Ward menekankan peran mentor visioner yang menghubungkan sains, praktik, dan pendidikan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved