Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

TBC di Maros Capai 995 Kasus, Dinkes Temukan 307 Pasien Baru dalam 4 Bulan

Hasan Rahim mengatakan target dihitung berdasarkan jumlah populasi dan kelompok suspek yang memiliki risiko tinggi tertular TBC

Tayang:
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Nurul Hidayah
TBC MAROS - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Maros, Hasan Rahim saat ditemui di Ruang Turikale Kantor Bupati Maros, Kamis (21/5/2026).Sebanyak 995 kasus Tuberculosis (TBC) ditemukan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sepanjang 2025. 

Ringkasan Berita:
  • 995 warga Maros kena penyakit TBC sepanjang tahun 2025
  • Sebanyak 83,17 persen berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan
  • Sementara angka kematian akibat penyakit menular itu sekitar 9 persen

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Sebanyak 995 kasus Tuberculosis (TBC) ditemukan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sepanjang 2025.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 83,17 persen berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan

Sementara angka kematian akibat penyakit menular itu sekitar 9 persen.

Kemudian, dalam kurun waktu empat bulan terakhir, Januari-April, Dinas Kesehatan (Dinkes) Maros menemukan 307 kasus TBC.

Jumlah itu masih jauh dari target penemuan kasus yang ditetapkan Kementerian Kesehatan sebanyak 1.699 kasus positif TBC di Maros.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Maros, Hasan Rahim mengatakan target tersebut dihitung berdasarkan jumlah populasi dan kelompok suspek yang memiliki risiko tinggi tertular TBC.

“Ada perhitungan dari Kementerian bahwa dari sekian populasi itu, sekian yang harus ditemukan. Itu diambil dari suspek seperti kontak erat dan yang memiliki gejala batuk,” katanya, Kamis (21/5/2026).

Hasan menjelaskan, pemeriksaan dilakukan dengan cara pengambilan dahak atau sputum untuk memastikan seseorang positif TBC atau tidak.

“Sampai akhir April ini kita baru temukan 307 kasus dari target 1.699 kasus positif TBC,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebaran kasus TBC paling banyak ditemukan di wilayah urban atau perkotaan seperti Kecamatan Turikale dan Mandai.

Hal itu dipengaruhi kondisi permukiman padat penduduk yang memudahkan penularan penyakit melalui udara.

“TBC itu penyakit menular lewat droplet di udara, jadi sangat terkait dengan kontak erat. Kalau rumah padat, kumuh, populasi tinggi, angka kontaknya juga tinggi,” jelasnya.

Hasan menerangkan, TBC disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru.

Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan kematian.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved