Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga BBM Naik

Waketum Kadin Erwin Aksa: Kelas Menengah Paling Rasakan Dampak Pertamax Naik

Menurut Erwin kenaikan harga Pertamax memiliki konsekuensi terhadap pengeluaran rumah tangga masyarakat meskipun bukan merupakan BBM subsidi

Tayang:
Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com
Erwin Aksa, mantan Ketum HIPMI bersama Bahlil Lahadalia usai Pembukaan Munas HIPMI di Lampung, Rabu (10/6/2026) malam 

Ringkasan Berita:
  • Menurut Erwin, kenaikan harga Pertamax memiliki konsekuensi terhadap pengeluaran rumah tangga masyarakat meskipun bukan merupakan BBM subsidi
  • Harga Pertamax dinaikkan pemerintah dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau sekitar 32 persen
  • Kelompok kelas menengah saat ini berada dalam posisi yang cukup rentan karena harus menghadapi berbagai tekanan biaya hidup

 

TRIBUN-TIMUR.COM -- Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Erwin Aksa, mengingatkan pemerintah agar mewaspadai dampak lanjutan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax terhadap daya beli masyarakat.

Khususnya kelompok kelas menengah yang saat ini dinilai tengah menghadapi berbagai tekanan ekonomi.

Harga Pertamax dinaikkan pemerintah dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau sekitar 32 persen.

Menurut Erwin, kenaikan harga Pertamax memiliki konsekuensi terhadap pengeluaran rumah tangga masyarakat meskipun bukan merupakan BBM subsidi.

"Kenaikan Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau sekitar 32 persen tentu perlu dicermati, meskipun ini BBM nonsubsidi dan bukan komponen utama angkutan barang maupun transportasi publik. Dampak inflasinya mungkin tidak sebesar kenaikan BBM subsidi, tetapi tetap ada tekanan terhadap biaya hidup, terutama bagi kelas menengah yang mobilitas hariannya menggunakan Pertamax," kata Erwin kepada wartawan usai menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVI HIPMI di Lampung Rabu (10/6/2026).

Ia menilai kelompok kelas menengah saat ini berada dalam posisi yang cukup rentan karena harus menghadapi berbagai tekanan biaya hidup, mulai dari kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, kewajiban cicilan, hingga melemahnya daya beli.

Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya transportasi pribadi berpotensi mempersempit ruang konsumsi masyarakat.

Akibatnya, belanja untuk kebutuhan non-prioritas seperti rekreasi, kuliner, ritel, hingga pembelian barang tahan lama berisiko mengalami penurunan.

"Kelas menengah saat ini sudah menghadapi tekanan dari harga pangan, biaya pendidikan, cicilan, dan pelemahan daya beli. Karena itu, kenaikan BBM ini bisa membuat ruang konsumsi semakin sempit. Ketika biaya transportasi pribadi naik, masyarakat biasanya akan mengurangi belanja non-prioritas, seperti makan di luar, rekreasi, belanja ritel, dan konsumsi barang tahan lama. Ini tentu bisa berdampak ke sektor perdagangan, ritel, UMKM, restoran, dan jasa," ujarnya.

Meski demikian, Erwin menegaskan bahwa dampak kenaikan Pertamax terhadap harga pangan dan kebutuhan pokok diperkirakan tidak akan terlalu besar karena distribusi logistik utama masih didominasi penggunaan solar dan BBM subsidi.

Namun demikian, ia mengingatkan adanya potensi efek lanjutan atau second-round effect yang perlu diantisipasi, terutama terkait meningkatnya biaya operasional usaha kecil, layanan kurir, kendaraan operasional perusahaan, serta distribusi jarak pendek.

"Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kenaikan BBM nonsubsidi ini menjadi alasan kenaikan harga yang tidak proporsional di pasar," tegasnya.

Erwin juga mengingatkan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak serta merta menyebabkan harga barang naik dalam persentase yang sama. Menurutnya, dampak terhadap harga produk sangat bergantung pada struktur biaya masing-masing sektor usaha.

"Kalau Pertamax naik sekitar 30 persen, bukan berarti harga barang otomatis naik 30 persen. Dampak ke harga barang sangat bergantung pada porsi BBM dalam struktur biaya masing-masing sektor. Untuk barang kebutuhan pokok, kenaikannya semestinya jauh lebih kecil, selama harga solar subsidi dan biaya logistik utama tetap terjaga," katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved