Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

RT RW Barrang Lompo Kelola Bank Sampah, Kumpulkan Hampir Dua Ton Sampah dalam Dua Pekan

Warga RW 003 Kelurahan Barrang Lompo kini tak lagi memandang sampah anorganik sebagai barang buangan semata.

Tayang:
Penulis: Makmur | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Makmur
BANK SAMPAH - RT/RW bersama penyuluh persampahan DLH Makassar di memegang sejumlah sampah yang dimasukkan oleh warga di depan sekretariat BSU Lepa-Lepa, yang dikelola RW 003 Kelurahan Kepulauan Barrang Lompo, Kamis (4/6/2026). RT/RW Barrang Lompo kelola Bank Sampah dan ajak warga pilah sampah sejak dari rumah.  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR– Di tengah hamparan laut yang mengelilingi Pulau Barrang Lompo, sebuah gerakan kecil mulai tumbuh dan membawa harapan baru bagi lingkungan.

Warga RW 003 Kelurahan Barrang Lompo kini tak lagi memandang sampah anorganik sebagai barang buangan semata.

Melalui Bank Sampah Unit (BSU) Lepa-Lepa yang baru beroperasi sekitar dua pekan, sampah plastik, kardus, hingga kaleng aluminium mulai dikumpulkan, dipilah, dan diubah menjadi tabungan bernilai ekonomi.

Gerakan ini digagas oleh pengurus RT/RW setempat bersama penyuluh persampahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar.

Ketua RW 003 Kelurahan Barrang Lompo, Haji Sampara, mengatakan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program tersebut.

Karena itu, sosialisasi dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah.

"Kami jelaskan kepada warga bahwa sampah plastik harus dipisahkan. Kalau tidak sampai langsung ke warga, tujuan utama program ini tidak akan tercapai," ujar Haji Sampara kepada Tribun Timur, Kamis (4/6/2026).

Sosialisasi tidak hanya menyasar rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha dan pedagang yang menghasilkan sampah anorganik dalam jumlah cukup besar.

Warga diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari rumah serta jenis-jenis sampah yang dapat ditabung melalui BSU.

Dalam sistem yang diterapkan, warga mengumpulkan sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan kaleng aluminium untuk kemudian dibawa ke bank sampah.

Setiap sampah yang disetor akan ditimbang dan dicatat sebagai tabungan.

Jika jumlahnya telah mencukupi, warga dapat memilih menerima uang tunai atau menukarnya dengan kebutuhan pokok seperti minyak goreng maupun mi instan.

"Nanti sampahnya kami beli di sini. Kalau masih sedikit, kami catat dulu sebagai tabungan. Kalau sudah cukup bisa diuangkan atau ditukar dengan kebutuhan sehari-hari," jelasnya.

Tidak hanya mengelola sampah dari rumah tangga, BSU Lepa-Lepa juga berupaya mengurangi sampah kiriman yang kerap terbawa arus laut ke pesisir pulau.

Setiap pagi, pengurus RT/RW bersama warga mengumpulkan botol plastik dan berbagai sampah anorganik yang terdampar di sepanjang pantai sebelum dipilah dan dimasukkan ke dalam sistem pengelolaan bank sampah.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved