Wawancara Khusus
Semangat Waisak, Semangat Berbagi
Bagi umat Buddha, momen ini menjadi waktu refleksi diri untuk mengamalkan ajaran cinta kasih, kedamaian, dan kebaikan.
Penulis: Rudi Salam | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Bukan cuma dirangkaikan kebetulan memang dekat antara Waisak sekaligus dirangkaikannya ulang tahun Vihara Girinaga.
Terus ada juga kita melaksanakan kegiatan memberi hiburan, memberi semangat kepada anak-anak Rumah Harapan Indonesia.
Pada saat itu kan anak-anak ini adalah penderita penyakit-penyakit kritis. Nah, ini mereka ini butuh penyemangat.
Nah, disinilah KCBI, Girinaga hadir dalam rangka Waisak dan dalam rangka ulang tahun Girinaga juga pada saat itu, Ko ya.
Kita membuatkan mereka kegiatan, kita membuatkan mereka acara dan mereka jadi senang, bersemangat.
Semangat inilah yang kita harapkan membuat mereka terbakar untuk sehat gitu, karena menjalani prosesnya itu waduh kalau kita lihat penyakitnya benar-benar kasihanlah.
Kegiatan tahun ini adakah yang baru dibanding tahun sebelumnya?
Erdy Wijaya: Kita setiap tahun itu menjelang Waisak pasti kita sering kolaborasi. Kita pasti selalu ada bakti sosial.
Tapi mungkin tahun ini sosialnya seperti ini, ada perbedaanlah. Tapi baksos intinya selalu ada itu seperti itu.
Artinya dari pikiran ini kan ada rencana berarti hasil dari pikiran, kemudian perkataan dirapatkan mungkin, kemudian diaksikan atau tindakan itu dalam bentuk nyata gitu.
Dan tanpa membedakan agama, suku, dan sebagainya. Betul, semua diberi.
Apalagi waktu itu Girinaga juga kan bagi beras ke semua sekitar penduduk itu enggak ditanya agamanya apa, enggak ada. Enggak ditanya suku apa, enggak ada.
Pokoknya semua dapat yang penting masuk keluarga prasejahtera.
Bahkan Girinaga ini membagi 2.570 makanan ke keliling Makassar, keliling Makassar untuk mencari orang-orang prasejahtera itu. Itu memang semangat spiritual dari Dharma, karena semangat spiritual dari Dharma itu makanya temanya kembali ke temanya, sumber moral.
Tanpa Dharma yang sebagai sumber moral itu harus dilaksanakan dengan semangat spiritual pikiran, ucapan, dan perbuatan.
2.570 makanan dibagikan disesuaikan dengan tema 2570 Buddhist Era?
Pandita Roy Ruslim: Iya kalau kita lihat tadi bahwa memang Dharma adalah simbol daripada spiritual, menimbulkan satu kedamaian, maka tentu kita harus suatu yang damai yang harus hakiki gitu.
Kalau suatu hakiki itu adalah bukan kita menerima pemberian.
Kalau kita menerima pemberian misalnya handphone nih kita diberikan, itu hanya bertahan mungkin satu bulan, dua bulan kemudian kita sudah lupakan kebahagiaan itu.
Hanya pertama waktu kita menerima hadiah itu. Tetapi pemberian yang kita bisa berikan kepada orang lain, itu bisa bertahan selama-lamanya bahkan sebelum kita menutup mata kita yang terakhir, kita bisa mengingat perbuatan-perbuatan baik kita memberi ya, bukan diberi.
Memberi satu kebahagiaan muncul yang tidak terkirakan di batin kita, dan menurut agama Buddha itulah yang sangat menentukan kehidupan kita yang akan datang.
Nah, jadi jika kita memiliki moral yang baik maka otomatis kita akan menimbulkan satu cinta kasih ya, cinta kasih yang universal tanpa membeda-bedakan, tidak ada sama sekali membedakan.
Jadi yang Anda katakan tadi bahwa kita membagi 2.570, itu betul-betul 2.570 dan bahkan lebih dari 2.570. Dan kita berikan, kita jalan.
Jadi bukan kita tunggu satu tempat, kita jalan ke mana-mana kita cari kantong-kantong tempat anak-anak yang kumuh gitu ya, prasejahtera gitu ya.
Keliling Makassar gitu ya, hampir dua bulan kita itu dan mencapai gitu. Dan kita satu kebahagiaan tersendiri ya waktu kita memberi kita bahagia, bahagia sekali.
Orang yang diberi juga wah bahagia karena mungkin hari itu belum dapat makan karena kita baginya siang.
Wah mereka bagi mereka makan gitu, mereka senang sekali. Tapi kita lebih senang karena melihat pemberian kita itu dihargai gitu ya, bahagia sekali.
Nah tentu di Waisak ini kebahagiaan inilah yang kita mau munculkan.
Semakin banyak orang yang bisa memberi maka dia akan mempunyai cinta kasih.
Dan kalau banyak orang yang memberikan pikiran cinta kasih maka dunia ini pasti aman, nah menjadi dasar suatu kebahagiaan yang universal gitu.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260503-Jelang-Hari-Raya-Waisak-DPD-Walubi-Sulsel-Bersih-bersih-Taman-Makam-Pahlawan.jpg)