Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Wawancara Khusus

Semangat Waisak, Semangat Berbagi

Bagi umat Buddha, momen ini menjadi waktu refleksi diri untuk mengamalkan ajaran cinta kasih, kedamaian, dan kebaikan.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Tribun Timur/ Faqih Imtiyaaz
KARYA BAKTI - Ketua DPD Walubi Sulsel Henry Sumitomo bersama Kepala Bidang (Kabid) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Sumarjo saat berdoa di makam Capt Infanteri Liem King San di Taman Makam Pahlawan, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar,Minggu (3/5/2026). Walubi Sulsel menggelar aksi bersih-bersih makam pahlawan menyambut Hari Raya Waisak. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Umat Buddha baru saja memperingati hari raya terpenting, Waisak 2570 BE atau 2026, Minggu (31/5/2026).

Bagi umat Buddha, momen ini menjadi waktu refleksi diri untuk mengamalkan ajaran cinta kasih, kedamaian, dan kebaikan.

Tribun Timur melalui podcast Bincang Komunitas pun membahas lebih dalam mengenai Waisak yang disiarkan secara langsung melalui YouTube Tribun Timur, Jumat (29/5/2026).

Podcast ini mengusung tema Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan.

Hadir sebagai narasumber Wakil Ketua 1 DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia Sulawesi Selatan (Walubi Sulsel) Pdt Roy Ruslim, Wakil Ketua 3 DPD Walubi Sulsel Miguel Dharmadjie, dan Ketua DPD Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) Sulsel Erdy Wijaya.

Dipandu Fiorena Jieretno, berikut wawancara selengkapnya:

Makna tema besar Waisak tahun ini?

Pandita Roy Ruslim: Jadi hari ini sungguh bahagia, kita bisa bahas bersama menjelang hari suci Waisak. Dan apa itu sendiri Hari Trisuci Waisak.

Nah, jadi Hari Suci Waisak ini yang jatuh pada tanggal 31 Mei nanti ya, itu adalah tahun Buddhisnya 2570 Buddhist Era (BE).

Dan tentu semua umat Buddha baik yang di Makassar, di Indonesia, maupun di sedunia akan menyambut sukacita Waisak ini.

Dan kita tahu bahwa Dharma itu adalah suatu dasar daripada Buddhisme ya. Pangeran Siddharta mencapai penerangan sempurna dan menjadi Buddha.

Beliau adalah memang pada saat beliau menyampaikan Dharma atau Dhamma ini, itu kepada para dewa maupun manusia.

Dan Dhamma ini adalah suatu yang paling hakiki, yang paling mendasar untuk mencapai kebahagiaan, kedamaian, baik kehidupan manusia maupun para dewa.

Dan inilah yang beliau ajarkan 2.500 tahun yang lampau dan masih sampai sekarang itu masih relevan dengan perkembangan agama Buddha, perkembangan dunia ya, perkembangan ekonomi, perkembangan ingin satu kedamaian, baik manusia maupun dewa, itu semua pengen.

Dan dasar daripada itu Dhamma, yang Sang Buddha ajarkan.

Miguel Dharmadjie: Jadi memang secara umum ketika kita berbicara Dharma itu sendiri, atau Dharma dalam bahasa Palinya, itu memang kadang diterjemahkan sebagai ajaran Buddha.

Banyak diterjemahkan sebagai ajaran Buddha, tetapi kalau kita melihat dalam konteks yang lebih universal, sebenarnya ketika kita berbicara tentang Dharma, sebenarnya itu dia memiliki arti adalah kebenaran universal.

Jadi kebenaran yang ada secara universal inilah yang ketika Pertapa Gotama itu berjuang untuk dia mencapai kebuddhaan, beliau menemukan bahwa ada beberapa poin dari kebenaran universal ini yang sebenarnya menjadi esensi-esensi daripada kehidupan kita ini, sehingga ketika kita ingin terlepas dari yang namanya penderitaan kehidupan ini, maka kita harus menjalankan hal tersebut.

Nah, cuma untuk lebih memudahkan, kadang orang katakan Dharma itu sebagai ajaran Buddha. 

Tetapi kalau dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya itu adalah kebenaran universal.

Jadi kebenaran apa pun yang bersifat secara universal, maka itu sebenarnya bisa dikategorikan sebagai Dharma itu sendiri sebenarnya.

Dari beberapa poin tadi, contoh praktik sehari-harinya seperti apa?

Miguel Dharmadjie: Jadi kembali lagi, jadi tadi saya katakan Dharma itu adalah kebenaran universal.

Kebenaran universal ini bagaimana sih pengertiannya. Kan banyak orang bertanya.

Jadi kebenaran universal ini adalah kebenaran yang berlaku kapan saja, di mana saja, dan bagi siapa saja.

Jadi dia tidak terikat oleh waktu, oleh tempat, dan oleh misalnya oleh kesempatan tertentu, tidak, tapi dia berlaku di mana saja.

Jadi kebenaran ini adalah kebenaran yang hakiki. Jadi kalau kita menggunakan kebenaran universal itu adalah kebenaran yang hakiki.

Jadi memang ajaran Buddha kalau kita melihat ya, kita melihat itu ada yang namanya Tiga Permata.

Baik, Tiga Permata itu yang pertama Buddha, yang kedua adalah Dharma, dan yang ketiga adalah Sangha.

Singkatnya adalah Buddha itu adalah orang yang menemukan kebenaran itu, bukan menciptakan, bukan menciptakan tapi menemukan.

Kemudian yang kedua ada namanya Dharma, ajaran yang bisa dikatakan ditemukannya ini, inilah yang disebut sebagai Dharma, kebenaran yang hakiki, bagian dari kebenaran yang hakiki. Dan yang ketiga ada namanya Sangha.

Sangha itu adalah murid-murid daripada Buddha yang menjalankan, melatih diri, menjalankan seperti apa yang dijalankan oleh Buddha sebagai seorang pertapa.

Di dalam konteks Dharma ini sendiri, maka ketika kita berbicara Dharma di situ, secara singkat ajaran Buddha mengajarkan bahwa ada tiga hal disebut sebagai landasan perbuatan baik, yaitu ada namanya Dana.

Dana itu adalah kerelaan. Yang kedua ada namanya Sila. Sila itu adalah tata susila, kemoralan. Dan yang ketiga namanya Samadi.

Samadi atau di sini diterjemahkan meditasi, tapi sebenarnya adalah konsentrasi pikiran.

Jadi ini adalah contoh dasar yang bisa dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya oleh umat Buddha, karena kerelaan itu bisa dilakukan siapa saja.

Orang yang mau melatih moralitas, melatih Sila itu dapat dilakukan oleh siapa saja, dan orang yang ingin hidupnya tenang, pikirannya tenang, dia melatih meditasi juga itu bisa siapa saja.

Secara pribadi Anda memaknai Waisak 2026?

Erdy Wijaya: Jadi kan karena temannya kita adalah Dharma sebagai sumber moral, nah apa yang tadi Miguel sampaikan bahwa Dharma itu adalah kebenaran universal.

Nah untuk mencapai ke arah sana tentu perlu ada namanya tindakan. Kalau kita bicara Dharma-nya kan Sang Buddha mengajarkan pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Kita anggap pikiran sudah masuk karena Dharma dianggap sebagai sumber moral, tapi apakah ucapan dan perbuatan ini terlaksana atau tidak itu betul percuma kalau hanya bikin pemikiran.

Dengan dasar seperti itu kita telah menjalankan banyak aksi sosial, aksi yang tentunya berawal dari spiritualisme ke Dhamma itu sendiri.

Sebagai contoh, banyak hal yang telah kita lakukan.

Kita dari KCBI sendiri kolaborasi dengan Vihara Girinaga dengan didukung oleh Walubi Sulsel, kita telah melaksanakan seperti misalnya donor darah.

Baik donor darah kemudian bakti kesehatan untuk orang tua. Di mana kita bekerja sama juga dengan Rumah Sakit Grestelina pada saat itu, pemeriksaan kesehatan gratis untuk orang tua.

Bukan cuma dirangkaikan kebetulan memang dekat antara Waisak sekaligus dirangkaikannya ulang tahun Vihara Girinaga.

Terus ada juga kita melaksanakan kegiatan memberi hiburan, memberi semangat kepada anak-anak Rumah Harapan Indonesia.

Pada saat itu kan anak-anak ini adalah penderita penyakit-penyakit kritis. Nah, ini mereka ini butuh penyemangat.

Nah, disinilah KCBI, Girinaga hadir dalam rangka Waisak dan dalam rangka ulang tahun Girinaga juga pada saat itu, Ko ya.

Kita membuatkan mereka kegiatan, kita membuatkan mereka acara dan mereka jadi senang, bersemangat.

Semangat inilah yang kita harapkan membuat mereka terbakar untuk sehat gitu, karena menjalani prosesnya itu waduh kalau kita lihat penyakitnya benar-benar kasihanlah.

Kegiatan tahun ini adakah yang baru dibanding tahun sebelumnya?

Erdy Wijaya: Kita setiap tahun itu menjelang Waisak pasti kita sering kolaborasi. Kita pasti selalu ada bakti sosial.

Tapi mungkin tahun ini sosialnya seperti ini, ada perbedaanlah. Tapi baksos intinya selalu ada itu seperti itu.

Artinya dari pikiran ini kan ada rencana berarti hasil dari pikiran, kemudian perkataan dirapatkan mungkin, kemudian diaksikan atau tindakan itu dalam bentuk nyata gitu.

Dan tanpa membedakan agama, suku, dan sebagainya. Betul, semua diberi.

Apalagi waktu itu Girinaga juga kan bagi beras ke semua sekitar penduduk itu enggak ditanya agamanya apa, enggak ada. Enggak ditanya suku apa, enggak ada.

Pokoknya semua dapat yang penting masuk keluarga prasejahtera.

Bahkan Girinaga ini membagi 2.570 makanan ke keliling Makassar, keliling Makassar untuk mencari orang-orang prasejahtera itu. Itu memang semangat spiritual dari Dharma, karena semangat spiritual dari Dharma itu makanya temanya kembali ke temanya, sumber moral.

Tanpa Dharma yang sebagai sumber moral itu harus dilaksanakan dengan semangat spiritual pikiran, ucapan, dan perbuatan.

2.570 makanan dibagikan disesuaikan dengan tema 2570 Buddhist Era?

Pandita Roy Ruslim: Iya kalau kita lihat tadi bahwa memang Dharma adalah simbol daripada spiritual, menimbulkan satu kedamaian, maka tentu kita harus suatu yang damai yang harus hakiki gitu.

Kalau suatu hakiki itu adalah bukan kita menerima pemberian.

Kalau kita menerima pemberian misalnya handphone nih kita diberikan, itu hanya bertahan mungkin satu bulan, dua bulan kemudian kita sudah lupakan kebahagiaan itu.

Hanya pertama waktu kita menerima hadiah itu. Tetapi pemberian yang kita bisa berikan kepada orang lain, itu bisa bertahan selama-lamanya bahkan sebelum kita menutup mata kita yang terakhir, kita bisa mengingat perbuatan-perbuatan baik kita memberi ya, bukan diberi.

Memberi satu kebahagiaan muncul yang tidak terkirakan di batin kita, dan menurut agama Buddha itulah yang sangat menentukan kehidupan kita yang akan datang.

Nah, jadi jika kita memiliki moral yang baik maka otomatis kita akan menimbulkan satu cinta kasih ya, cinta kasih yang universal tanpa membeda-bedakan, tidak ada sama sekali membedakan.

Jadi yang Anda katakan tadi bahwa kita membagi 2.570, itu betul-betul 2.570 dan bahkan lebih dari 2.570. Dan kita berikan, kita jalan.

Jadi bukan kita tunggu satu tempat, kita jalan ke mana-mana kita cari kantong-kantong tempat anak-anak yang kumuh gitu ya, prasejahtera gitu ya.

Keliling Makassar gitu ya, hampir dua bulan kita itu dan mencapai gitu. Dan kita satu kebahagiaan tersendiri ya waktu kita memberi kita bahagia, bahagia sekali.

Orang yang diberi juga wah bahagia karena mungkin hari itu belum dapat makan karena kita baginya siang.

Wah mereka bagi mereka makan gitu, mereka senang sekali. Tapi kita lebih senang karena melihat pemberian kita itu dihargai gitu ya, bahagia sekali.

Nah tentu di Waisak ini kebahagiaan inilah yang kita mau munculkan.

Semakin banyak orang yang bisa memberi maka dia akan mempunyai cinta kasih.

Dan kalau banyak orang yang memberikan pikiran cinta kasih maka dunia ini pasti aman, nah menjadi dasar suatu kebahagiaan yang universal gitu.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved