Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Wawancara Khusus

Semangat Waisak, Semangat Berbagi

Bagi umat Buddha, momen ini menjadi waktu refleksi diri untuk mengamalkan ajaran cinta kasih, kedamaian, dan kebaikan.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Tribun Timur/ Faqih Imtiyaaz
KARYA BAKTI - Ketua DPD Walubi Sulsel Henry Sumitomo bersama Kepala Bidang (Kabid) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Sumarjo saat berdoa di makam Capt Infanteri Liem King San di Taman Makam Pahlawan, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar,Minggu (3/5/2026). Walubi Sulsel menggelar aksi bersih-bersih makam pahlawan menyambut Hari Raya Waisak. 

Kemudian yang kedua ada namanya Dharma, ajaran yang bisa dikatakan ditemukannya ini, inilah yang disebut sebagai Dharma, kebenaran yang hakiki, bagian dari kebenaran yang hakiki. Dan yang ketiga ada namanya Sangha.

Sangha itu adalah murid-murid daripada Buddha yang menjalankan, melatih diri, menjalankan seperti apa yang dijalankan oleh Buddha sebagai seorang pertapa.

Di dalam konteks Dharma ini sendiri, maka ketika kita berbicara Dharma di situ, secara singkat ajaran Buddha mengajarkan bahwa ada tiga hal disebut sebagai landasan perbuatan baik, yaitu ada namanya Dana.

Dana itu adalah kerelaan. Yang kedua ada namanya Sila. Sila itu adalah tata susila, kemoralan. Dan yang ketiga namanya Samadi.

Samadi atau di sini diterjemahkan meditasi, tapi sebenarnya adalah konsentrasi pikiran.

Jadi ini adalah contoh dasar yang bisa dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya oleh umat Buddha, karena kerelaan itu bisa dilakukan siapa saja.

Orang yang mau melatih moralitas, melatih Sila itu dapat dilakukan oleh siapa saja, dan orang yang ingin hidupnya tenang, pikirannya tenang, dia melatih meditasi juga itu bisa siapa saja.

Secara pribadi Anda memaknai Waisak 2026?

Erdy Wijaya: Jadi kan karena temannya kita adalah Dharma sebagai sumber moral, nah apa yang tadi Miguel sampaikan bahwa Dharma itu adalah kebenaran universal.

Nah untuk mencapai ke arah sana tentu perlu ada namanya tindakan. Kalau kita bicara Dharma-nya kan Sang Buddha mengajarkan pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Kita anggap pikiran sudah masuk karena Dharma dianggap sebagai sumber moral, tapi apakah ucapan dan perbuatan ini terlaksana atau tidak itu betul percuma kalau hanya bikin pemikiran.

Dengan dasar seperti itu kita telah menjalankan banyak aksi sosial, aksi yang tentunya berawal dari spiritualisme ke Dhamma itu sendiri.

Sebagai contoh, banyak hal yang telah kita lakukan.

Kita dari KCBI sendiri kolaborasi dengan Vihara Girinaga dengan didukung oleh Walubi Sulsel, kita telah melaksanakan seperti misalnya donor darah.

Baik donor darah kemudian bakti kesehatan untuk orang tua. Di mana kita bekerja sama juga dengan Rumah Sakit Grestelina pada saat itu, pemeriksaan kesehatan gratis untuk orang tua.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved