Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Wawancara Khusus

Semangat Waisak, Semangat Berbagi

Bagi umat Buddha, momen ini menjadi waktu refleksi diri untuk mengamalkan ajaran cinta kasih, kedamaian, dan kebaikan.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Tribun Timur/ Faqih Imtiyaaz
KARYA BAKTI - Ketua DPD Walubi Sulsel Henry Sumitomo bersama Kepala Bidang (Kabid) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Sumarjo saat berdoa di makam Capt Infanteri Liem King San di Taman Makam Pahlawan, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar,Minggu (3/5/2026). Walubi Sulsel menggelar aksi bersih-bersih makam pahlawan menyambut Hari Raya Waisak. 

Miguel Dharmadjie: Jadi memang secara umum ketika kita berbicara Dharma itu sendiri, atau Dharma dalam bahasa Palinya, itu memang kadang diterjemahkan sebagai ajaran Buddha.

Banyak diterjemahkan sebagai ajaran Buddha, tetapi kalau kita melihat dalam konteks yang lebih universal, sebenarnya ketika kita berbicara tentang Dharma, sebenarnya itu dia memiliki arti adalah kebenaran universal.

Jadi kebenaran yang ada secara universal inilah yang ketika Pertapa Gotama itu berjuang untuk dia mencapai kebuddhaan, beliau menemukan bahwa ada beberapa poin dari kebenaran universal ini yang sebenarnya menjadi esensi-esensi daripada kehidupan kita ini, sehingga ketika kita ingin terlepas dari yang namanya penderitaan kehidupan ini, maka kita harus menjalankan hal tersebut.

Nah, cuma untuk lebih memudahkan, kadang orang katakan Dharma itu sebagai ajaran Buddha. 

Tetapi kalau dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya itu adalah kebenaran universal.

Jadi kebenaran apa pun yang bersifat secara universal, maka itu sebenarnya bisa dikategorikan sebagai Dharma itu sendiri sebenarnya.

Dari beberapa poin tadi, contoh praktik sehari-harinya seperti apa?

Miguel Dharmadjie: Jadi kembali lagi, jadi tadi saya katakan Dharma itu adalah kebenaran universal.

Kebenaran universal ini bagaimana sih pengertiannya. Kan banyak orang bertanya.

Jadi kebenaran universal ini adalah kebenaran yang berlaku kapan saja, di mana saja, dan bagi siapa saja.

Jadi dia tidak terikat oleh waktu, oleh tempat, dan oleh misalnya oleh kesempatan tertentu, tidak, tapi dia berlaku di mana saja.

Jadi kebenaran ini adalah kebenaran yang hakiki. Jadi kalau kita menggunakan kebenaran universal itu adalah kebenaran yang hakiki.

Jadi memang ajaran Buddha kalau kita melihat ya, kita melihat itu ada yang namanya Tiga Permata.

Baik, Tiga Permata itu yang pertama Buddha, yang kedua adalah Dharma, dan yang ketiga adalah Sangha.

Singkatnya adalah Buddha itu adalah orang yang menemukan kebenaran itu, bukan menciptakan, bukan menciptakan tapi menemukan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved