Industri pariwisata dinilai perlu menghadirkan layanan yang aman, ramah disabilitas, inklusif, dan bebas dari praktik eksploitasi.
Sebagai tindak lanjut, sivitas akademika Politeknik Pariwisata Makassar diharapkan mampu membangun lingkungan kampus yang aman, adil, bebas diskriminasi, serta menjunjung tinggi kebebasan berpikir demi melahirkan generasi pariwisata yang berintegritas.
Daniel berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam memperluas budaya penghormatan HAM, khususnya di kalangan generasi muda sektor pariwisata.
“Ke depan, kami berharap kesadaran HAM tidak berhenti sebatas pengetahuan di ruang kelas, tetapi benar-benar menjadi budaya, karakter, dan sikap hidup yang diterapkan dalam praktik pariwisata sehari-hari. Ini menjadi bagian penting dari upaya penyebarluasan nilai-nilai HAM kepada masyarakat,” tutupnya.(*)