TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sebanyak 10 dosen dari Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) memberikan edukasi dan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos kepada masyarakat Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan yang digelar dengan dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unhas tersebut diikuti ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Selasih, anggota Bank Sampah Unit (BSU) Makkio Baji, serta pengurus RT/RW 005 Kelurahan Bangkala.
Turut hadir dalam kegiatan itu Lurah Bangkala Muhammad Dapri Kodding.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya dosen Fakultas Pertanian Unhas untuk mendorong pengurangan sampah dari sumbernya sekaligus mendukung program Pemerintah Kota Makassar dan pemerintah pusat terkait pengelolaan sampah berkelanjutan.
Dalam kegiatan itu, peserta tidak hanya mendapatkan materi tentang pentingnya pengelolaan sampah organik, tetapi juga praktik langsung pembuatan kompos menggunakan teknologi yang dikembangkan oleh dosen Fakultas Pertanian Unhas.
Salah satu materi utama yang diperkenalkan adalah pembuatan Kompos DAENGKU, inovasi yang dikembangkan oleh Dosen Fakultas Pertanian Unhas, Rahmansyah Dermawan.
Kompos DAENGKU dibuat dari berbagai bahan organik seperti eceng gondok, daun kering, limbah rumah tangga organik, hingga kotoran hewan yang diperkaya dengan konsorsium mikroba biodekomposer.
Menurut Rahmansyah, keunggulan kompos tersebut terletak pada metode pembuatannya yang menggunakan sistem layering anaerobic fermentation atau fermentasi anaerob berlapis.
Metode tersebut memungkinkan seluruh bahan organik terfermentasi secara merata sehingga proses penguraian berlangsung lebih cepat dibandingkan metode pengomposan konvensional.
"Dengan teknik tersebut, kami mampu menghasilkan panas yang mempercepat proses pengomposan limbah. Hanya dalam waktu dua hingga tiga minggu, Kompos DAENGKU sudah siap dipanen dan dipasarkan," ujar Rahmansyah.
Ia menjelaskan, kompos yang dihasilkan memiliki kandungan unsur hara yang tinggi sehingga sangat baik digunakan sebagai media tanam maupun pupuk organik untuk berbagai jenis tanaman.
Setelah proses fermentasi selesai, kompos dipanen dan dikemas dalam ukuran lima kilogram per kemasan. Produk tersebut juga dilengkapi label yang memuat informasi kandungan dan bobot kompos.
Narasumber lainnya, Dr. Cri Wahyuni Brahmi Yanti, menjelaskan bahwa proses pengemasan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk sebelum dipasarkan.
"Kompos DAENGKU dikemas menggunakan plastik tebal dengan label yang memuat informasi produk sehingga lebih aman dan mudah dipasarkan," katanya.
Menurutnya, pengemasan yang baik juga berfungsi melindungi kompos dari air, gangguan hewan, serta memudahkan proses distribusi kepada konsumen.
Saat ini, Kompos DAENGKU telah dipasarkan melalui sejumlah toko pertanian maupun platform penjualan daring.
Dalam sesi berikutnya, dosen Fakultas Pertanian Unhas, Risky Nurhikmayani, memaparkan pentingnya penggunaan mikroba biodekomposer dalam proses pembuatan kompos.
Ia menjelaskan mikroba seperti Aspergillus, Trichoderma, dan Pseudomonas berperan mempercepat penguraian bahan organik yang mengandung lignin dan selulosa sehingga proses pengomposan menjadi lebih efektif.
"Mikroba biodekomposer membantu mempercepat pembusukan bahan organik sehingga proses pembuatan kompos menjadi lebih efektif dan efisien," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Pertanian Unhas, Nurfaida, menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga sebagai langkah awal dalam pengolahan sampah organik.
Menurutnya, sebagian besar sampah rumah tangga yang berasal dari sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang bernilai guna.
"Sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos. Karena itu pemilahan sampah harus dimulai dari rumah," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Lurah Bangkala Muhammad Dapri Kodding menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang diinisiasi Fakultas Pertanian Unhas.
Ia menilai edukasi dan pelatihan semacam itu sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir.
"Per tanggal 1 Agustus 2026 sudah tidak boleh lagi membuang sampah langsung ke TPA Antang. Karena itu masyarakat harus mulai memilah dan mengolah sampah organiknya di rumah masing-masing," jelas Dapri.
Ia berharap pelatihan tersebut dapat memperkuat langkah warga Kelurahan Bangkala untuk membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui produksi kompos berbasis rumah tangga.(*)