Dibanding Tamalanrea, Antang Disebut Lebih Siap untuk PSEL
Proyek ini harus mampu bertransformasi menjadi katalisator kesejahteraan bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi pengolahan.
Ringkasan Berita:
- Warga Tamalanrea menolak proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) karena lokasinya dinilai terlalu dekat dengan pemukiman.
- Koordinator IKA ISMEI Sulselbartra, Hasan Basri menegaskan proyek PSEL tidak boleh sekadar menjadi solusi teknis pengolahan sampah, tetapi juga harus mampu menghadirkan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat sekitar lokasi proyek.
- Hasan Basri menyarankan pembangunan PSEL dipusatkan di kawasan TPA Antang demi efisiensi operasional.
TRIBUN-TIMUR.COM - Warga Tamalanrea menolak proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Proyek itu ditolak lantaran berdekatan pemukiman warga.
Koordinator Ikatan Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI) Wilayah Sulselbartra, Hasan Basri, mengatakan proyek PSEL tidak boleh hanya dipandang sebagai solusi teknis penanganan sampah semata.
Proyek ini harus mampu bertransformasi menjadi katalisator kesejahteraan bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi pengolahan.
Aspek kemanfaatan ekonomi bagi masyarakat lokal harus menjadi prioritas utama pemerintah dalam menjalankan proyek bernilai investasi besar ini.
Efisiensi Lokasi dan Efek Domino Ekonomi
Lokasi PSEL memiliki kaitan erat dengan keberhasilan operasional dan dampak ekonominya.
Baca juga: Demo Lagi! Warga Mula Baru, Tamalalang, Bontoa, Akasia, Alamanda Bersatu Tolak PSEL di Tamalanrea
Ia menyarankan agar pembangunan PSEL tetap dipusatkan di sekitar kawasan TPA Antang demi alasan efisiensi yang rasional.
"Dari sisi pertimbangan ekonomi, jika PSEL berlokasi di dekat TPA Antang, maka efisiensi terhadap biaya operasional bisa ditekan. Kedekatan lokasi bahan baku sampah dengan area pengolahan akan memangkas biaya logistik yang cukup besar," ujar Hasan kepada media, Jumat (15/5/2026).
Efisiensi biaya secara tidak langsung akan menjamin keberlanjutan proyek dalam jangka panjang, sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan terus-menerus oleh daerah.
Mitigasi Risiko Investasi melalui Harmonisasi Sosial
Lebih jauh, Hasan mengingatkan pentingnya belajar dari pengalaman sebelumnya.
Rencana penempatan PSEL di wilayah Tamalanrea sempat menuai gelombang penolakan yang berisiko menghambat investasi.
"Memang sebelumnya ada pemenang tender untuk lokasi di Tamalanrea, namun jika terjadi penolakan oleh warga, maka ke depannya tidak menutup kemungkinan PSEL akan sulit berjalan sesuai harapan. Risiko investasi akan sangat tinggi jika setiap saat diperhadapkan dengan resistensi masyarakat sekitar," jelasnya.
Dengan memilih lokasi yang sudah terintegrasi seperti Antang, pemerintah dinilai dapat meminimalisir gangguan sosial karena masyarakat setempat sudah memiliki adaptasi yang tinggi terhadap ekosistem pengelolaan sampah.
| Demo Lagi! Warga Mula Baru, Tamalalang, Bontoa, Akasia, Alamanda Bersatu Tolak PSEL di Tamalanrea |
|
|---|
| Tetangga Tolak PSEL Tamalanrea |
|
|---|
| Ratusan Warga Demo Tolak Pembangunan PSEL di Tamalanrea, Kecam Pernyataan Menteri Purbaya |
|
|---|
| Warga Tamalanrea Tolak PSEL Dekat Permukiman, Sebut Hak Lingkungan Terancam |
|
|---|
| Batal Pindah ke Antang, Purbaya Yudhi Sadewa Kunci Lokasi PSEL di Tamalanrea |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-15-Koordinator-IKA-ISMEI-Wilayah-Sulselbartra-Hasan-Basri.jpg)