Densus 88 Temukan Lima Anak Makassar Terpapar Paham Radikal via Game dan WhatsApp
Sedikitnya lima anak di Makassar terdeteksi terpapar pemahaman ekstrem dan radikal melalui media sosial hingga permainan daring (online game).
Penulis: Siti Aminah | Editor: Sudirman
Menurutnya, proses masuknya anak ke dalam kelompok tersebut umumnya bermula dari aktivitas digital sehari-hari, mulai dari media sosial hingga game online.
Menurut dia, pola perekrutan dilakukan secara perlahan dengan memengaruhi cara berpikir anak hingga terjadi perubahan perilaku.
“Jadi mereka terdeteksi mungkin dari media sosial atau games online. Mereka klik sesuatu dan akhirnya masuk dalam grup yang namanya pemahaman teroris atau pemahaman radikal,” jelasnya.
Ia menyebut, terdapat sekitar 28 grup WhatsApp yang menjadi ruang penyebaran pemahaman tersebut.
Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa anak-anak tersebut belum sampai pada tahap melakukan tindakan berbahaya ataupun melanggar hukum seperti kasus-kasus yang ditemukan di Pulau Jawa.
“Di Makassar belum sampai ke tindakan membahayakan. Tapi kalau di Jawa sudah banyak yang ditangkap karena sudah mulai merakit bom,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peran UPTD PPA lebih difokuskan pada proses konseling dan pemulihan psikologis anak maupun keluarga.
Ia juga mengingatkan, penyebaran paham ekstrem terhadap anak dapat berkembang menjadi ancaman serius jika tidak segera ditangani.
Apabila dibiarkan, bukan hal mustahil mereka akan melakukan hal yang sama seperti anak ISIS dulu di Suriah.
Pengawasan orang tua menjadi faktor paling penting dalam mencegah anak terpapar paham menyimpang di ruang digital.
Untuk memperluas pengawasan, pihaknya aktif melakukan sosialisasi hingga ke tingkat kecamatan, sekolah, dan kelompok PKK agar masyarakat lebih berani melapor jika menemukan gejala mencurigakan pada anak.
“Makanya kami terus roadshow menyampaikan harus berani speak up, berani melapor,” ujarnya.
UPTD PPA Makassar juga memiliki layanan pengaduan digital melalui aplikasi Sakina yang memungkinkan anak melapor secara aman tanpa harus datang langsung ke kantor.
Ia berharap jumlah anak yang terpapar di Makassar tidak bertambah, meski informasi terbaru yang diterima menunjukkan tren kasus serupa mulai meningkat di berbagai daerah.
“Makassar masih di angka lima itu. Mudah-mudahan tidak bertambah, tapi tetap harus hati-hati,” tutupnya. (*)
| BPBD Makassar Pantau dan Intervensi Cepat Kekeringan, Langsung Kirim Tandon Air |
|
|---|
| Tripika Mamajang Sasar 13 Kelurahan Sosialisasikan Pilah Sampah |
|
|---|
| Kronologi Mahasiswi Makassar Disekap dan Dirudapaksa saat Lamar Kerja Babysitter |
|
|---|
| Doa Mengalir untuk Politisi cum Pengacara Yusuf Gunco yang Dirawat di RS Bhayangkara |
|
|---|
| Demi Mudahkan Akses Ambulans, 16 Lapak PKL di Jalan Yos Sudarso Ditertibkan dari Fasum |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-13-Kepala-DPPPA-Kota-Makassar-Ita-Isdiana-Anwar-diwawancara-di-Balaikota.jpg)