Densus 88 Temukan Lima Anak Makassar Terpapar Paham Radikal via Game dan WhatsApp
Sedikitnya lima anak di Makassar terdeteksi terpapar pemahaman ekstrem dan radikal melalui media sosial hingga permainan daring (online game).
Penulis: Siti Aminah | Editor: Sudirman
Ringkasan Berita:
- Dinas PPA Kota Makassar mengungkap lima anak terdeteksi terpapar paham radikal melalui media sosial dan game online.
- Mayoritas korban merupakan pelajar SMP dari keluarga menengah ke atas yang aktif menggunakan laptop dan gawai.
- Penyebaran paham ekstrem terhadap anak di Makassar menjadi perhatian serius setelah ditemukan lima kasus keterpaparan sejak tahun lalu.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Penyebaran paham radikal terhadap anak mulai menjadi perhatian serius di Kota Makassar.
Sedikitnya lima anak di Makassar terdeteksi terpapar pemahaman ekstrem dan radikal melalui media sosial hingga permainan daring (online game).
Kasus tersebut diungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Kota Makassar, Ita Isdianawa Anwar.
Ita menjelaskan keterlibatan pihaknya dalam penanganan bersama Densus 88 Antiteror.
Kerja sama dengan Densus 88 sudah berlangsung sejak tahun lalu, khususnya dalam penjangkauan kasus yang melibatkan anak-anak.
Operasi dilakukan secara tertutup.
Baca juga: ICATT, Densus 88, dan Rumah Moderasi Makassar Kolaborasi Tangkal Terorisme
Tim yang turun ke lapangan tidak mengetahui lokasi tujuan sebelum diarahkan langsung oleh aparat.
“Kami biasa janjian ketemu di suatu tempat. Kami jalan tidak tahu alamat di mana karena memang tidak boleh. Sampai di titik tertentu baru diarahkan,” tutur Ita Isdiana Anwar diwawancara di Balaikota Makassar Jl Jenderal Ahmad Yani, Rabu (13/5/2026)
Dari hasil operasi yang dilakukan, tercatat ada lima anak di Makassar yang terdeteksi masuk dalam kelompok dengan pemahaman radikal.
Sebagian ditemukan tahun lalu, sementara lainnya teridentifikasi awal tahun ini.
“Yang saya ikuti sampai tahun ini ada dua, jadi total sudah lima,” katanya.
Mayoritas anak yang terpapar berasal dari kalangan pelajar SMP.
Mereka disebut memiliki kemampuan akademik baik, berasal dari keluarga menengah ke atas, namun cenderung tertutup dan lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop atau gawai.
“Yang pasti orang tuanya tahu bahwa anaknya sudah masuk ke situ dan anaknya sudah berjanji untuk bertahap keluar,” katanya.
“Kita lihat rata-rata anak SMP yang pintar, menengah ke atas, kemudian memang pribadinya tenang, yang asik saja di depan laptop. Ternyata sudah masuk dalam jaringan ini,” ungkapnya.
| BPBD Makassar Pantau dan Intervensi Cepat Kekeringan, Langsung Kirim Tandon Air |
|
|---|
| Tripika Mamajang Sasar 13 Kelurahan Sosialisasikan Pilah Sampah |
|
|---|
| Kronologi Mahasiswi Makassar Disekap dan Dirudapaksa saat Lamar Kerja Babysitter |
|
|---|
| Doa Mengalir untuk Politisi cum Pengacara Yusuf Gunco yang Dirawat di RS Bhayangkara |
|
|---|
| Demi Mudahkan Akses Ambulans, 16 Lapak PKL di Jalan Yos Sudarso Ditertibkan dari Fasum |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-13-Kepala-DPPPA-Kota-Makassar-Ita-Isdiana-Anwar-diwawancara-di-Balaikota.jpg)