Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cerita Rita Suryaningsih Meracik Identitas Makassar dalam Sarabba Instan Sukma Jahe

Rita bersama suaminya menenun mimpi, membawa Sarabba, minuman legendaris tanah Bugis-Makassar melintasi batas ruang dan waktu.

Tayang:
Editor: Muh. Abdiwan
Tribun-timur.com/Muh. Abdiwan
SUKMA JAHE - Rita Suryaningsih memperlihatkan kemasan produk sarabba instan Sukma jahe hasil produksi Monity Jaya Bersama di Jl. Borong Indah A9 Makassar, Jumat (8/5). Rita bersama suaminya Zukri bermimpi membawa Sarabba, minuman legendaris tanah Bugis-Makassar dapat dinikmati kapan saja dan dimana saja melintasi batas ruang dan waktu. 

Perjalanan Sukma Jahe tidak semanis gula aren yang mereka gunakan. Sebagai pasangan yang membangun usaha bersama (couplepreneur), Rita dan Zukri kerap menghadapi badai. Perbedaan pendapat bukan hanya soal bisnis, tapi sering kali terbawa hingga ke meja makan di rumah.

Rita bercerita dengan jujur tentang titik terendahnya. Ditipu agen, dikhianati pemasok, hingga kesalahan produksi adalah makanan sehari-hari.

Bahkan, ada momen di mana tekanan itu terasa begitu berat hingga Rita sempat menulis surat pengunduran diri dari usahanya sendiri.

"Kalau tidak saling mendukung, bisa fatal. Tapi suami dan keluarga besar adalah sistem pendukung terkuat saya. Mereka memberi ruang dan kepercayaan penuh, itulah yang membuat saya tetap mengaduk jahe hingga detik ini," tuturnya.

Langkah Sukma Jahe kian mantap saat Rita memutuskan bergabung dengan Rumah BUMN Makassar. Meski awalnya sempat tidak tuntas mengikuti program, tahun lalu menjadi titik balik bagi Monity Jaya Bersama. Mereka berhasil lolos dan menjuarai ajang BRInkubator.

Di tempat itu, ia tidak hanya mendapatkan pelatihan usaha, tetapi juga ruang untuk bertumbuh bersama pelaku UMKM lainnya.

Koordinator Rumah BUMN Makassar, Muhammad Asliddin yang akrab disapa Didin, mengatakan Rumah BUMN hadir sebagai wadah inkubasi bagi UMKM untuk meningkatkan kelas usaha melalui pelatihan, pendampingan, hingga digitalisasi bisnis.

“Sejak tahun 2017 sampai sekarang, total UMKM binaan kami sudah mencapai sekitar enam ribu yang tersebar di Sulawesi Selatan,” jelas Didin.

Menurutnya, banyak UMKM binaan yang berhasil naik kelas, khususnya di sektor fashion dan makanan. Sebagian bahkan sudah memiliki toko sendiri dan mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional.

Ia menjelaskan, pelaku usaha yang ingin bergabung cukup memiliki usaha atau baru akan memulai usaha. Salah satu syarat penting adalah memiliki rekening dan QRIS BRI agar keuangan usaha dan pribadi dapat dipisahkan dengan baik.

“Kalau belum punya, kami bantu proses pembuatannya di sini,” tambahnya.

Menurut Didin, program pendampingan tidak berhenti di Brinkubator lokal saja. Peserta yang lolos akan melanjutkan ke tingkat nasional hingga program Brilliant Preneur yang diperuntukkan bagi UMKM berpotensi ekspor.

“Brilliant Preneur itu memang fokus untuk UMKM yang sudah siap ekspor dan manajemennya lebih matang,” jelasnya.

Selain pendampingan bisnis, alumni program juga mendapat prioritas untuk sertifikasi halal gratis hingga bantuan rebranding kemasan produk.

Bagi Rita, ilmu yang diperoleh dari Rumah BUMN membuka pandangan baru tentang bagaimana usaha kecil bisa berkembang lebih profesional.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved