Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

3 Kelurahan Pesisir Tallo Masuk Zona Rawan Krisis Air Bersih

Asesmen tersebut akan melibatkan berbagai unsur di tingkat wilayah, mulai dari lurah, Bhabinkamtibmas, Babinsa, hingga RT dan RW

Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Makmur
KEKERINGAN - Camat Tallo Andi Husni menyampaikan pengarahan dalam acara apel pagi rutin di halaman depan kantor Kecamatan Tallo, Maret 2026. Andi Husni menyusun strategi menghadapi dampak kemarau panjang. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Pemerintah Kecamatan Tallo mulai mematangkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan akibat musim kemarau panjang yang diperkirakan akan melanda wilayah tersebut dalam waktu dekat.

Kecamatan Tallo bahkan disebut sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi kedua di Kota Makassar setelah Kecamatan Ujung Tanah.

Camat Tallo, Andi Husni, mengatakan pihaknya tidak ingin menunggu dampak kekeringan terjadi, melainkan memilih melakukan langkah mitigasi sejak dini.

Salah satu upaya awal yang akan dilakukan adalah menggelar asesmen lapangan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar pada Selasa pekan depan.

Asesmen tersebut akan melibatkan berbagai unsur di tingkat wilayah, mulai dari lurah, Bhabinkamtibmas, Babinsa, hingga RT dan RW.

Mereka dinilai sebagai pihak yang paling memahami kondisi riil di lapangan, termasuk titik-titik yang selama ini kerap mengalami kesulitan air bersih.

“Rencananya hari Selasa kami lakukan asesmen bersama BPBD. Kami libatkan lurah, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa karena mereka lebih mengetahui kondisi wilayah masing-masing,” ujar Andi Husni kepada Tribun Timur, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, kegiatan asesmen ini bertujuan untuk memetakan secara rinci wilayah rawan kekeringan, jumlah penduduk yang berpotensi terdampak, serta kebutuhan air bersih di setiap kelurahan.

Data tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menyusun langkah-langkah penanganan yang lebih terarah dan efektif.

Menurut Andi Husni, terdapat tiga kelurahan yang masuk kategori paling rawan, yakni Kelurahan Tallo, Buloa, dan Kaluku Bodoa.

Ketiga wilayah tersebut berada di kawasan pesisir, sehingga memiliki keterbatasan sumber air tawar karena dominasi air tanah yang cenderung asin.

Ia mengungkapkan, untuk mendapatkan air tawar di wilayah tersebut, pengeboran harus dilakukan hingga kedalaman sekitar 200 meter.

Kondisi ini tentu membutuhkan biaya besar dan tidak mudah direalisasikan dalam waktu singkat.

“Daerah pesisir memang paling rawan. Kalau mau dapat air tawar, pengeborannya bisa sampai 200 meter ke bawah,” katanya.

Selain tiga wilayah pesisir tersebut, sejumlah kelurahan lain seperti Rappokalling, Bunga Eja Beru, dan Suangga juga berpotensi terdampak kekeringan, meski tingkat kerawanannya tidak setinggi kawasan pesisir.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved