DPRD Makassar Nilai TPA Tamangapa Lebih Efisien
Menurutnya, biaya tersebut dapat mencapai sekitar Rp20 miliar per tahun jika dilakukan pemindahan lokasi.
Survei ini melibatkan 600 responden dengan metode multi stage random sampling, margin of error 4,08 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menilai TPA Tamangapa sebagai lokasi paling efisien untuk pembangunan PSEL.
Selain tidak memerlukan pemindahan sampah ke lokasi baru, pilihan ini dinilai mampu menekan potensi tambahan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Menurutnya, pembangunan di lokasi baru akan membutuhkan biaya tambahan, terutama untuk transportasi sampah.
Sementara jika dibangun di area TPA, jarak pengangkutan menjadi lebih dekat sehingga lebih efisien dan terkontrol.
Dari sisi sosial, lokasi yang telah lama difungsikan sebagai TPA juga dinilai lebih minim potensi penolakan masyarakat dibandingkan dengan lokasi baru.
Hal ini menjadi pertimbangan penting dalam menjaga keberlanjutan proyek.
PSEL sendiri merupakan bagian dari upaya besar untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi di Makassar.
Namun, pemerintah menegaskan bahwa kontribusi PSEL hanya sekitar 14–15 persen dari total penanganan sampah, sehingga diperlukan langkah-langkah lain yang berjalan secara parallel.
Dengan dukungan publik yang kuat dan perencanaan yang terarah, pembangunan PSEL diharapkan dapat menjadi salah satu solusi strategis dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus menghasilkan energi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sampah Maros
Pemerintah Maros bakal menyuplai sampah untuk diolah menjadi energi listrik di Makassar.
Ini bagian dari kerja sama regional dalam pengelolaan sampah berbasis energi melalui proyek PSEL.
Selain Maros, Kabupaten Gowa juga menjadi daerah pemasok sampah untuk mendukung operasional fasilitas tersebut.
Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, mengatakan kerja sama ini menjadi langkah awal dalam pengelolaan sampah ramah lingkungan berbasis energi listrik.
Ia menyatakan kerja sama ini mencakup kolaborasi lintas daerah dalam mendukung pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.
Ia menjelaskan, Maros ditarget menyuplai sekira 30 sampai 50 persen sampah.
Sampah yang dikirim merupakan jenis organik seperti sisa makanan, kulit buah, dan dedaunan kering yang telah dipilah sebelum dikirim ke Makassar.
Pengiriman sampah dari Maros dilakukan setiap hari.
Proses ini memastikan pasokan bahan baku bagi fasilitas PSEL tetap berjalan secara berkelanjutan.
Untuk tahap awal, Maros masih berperan sebagai daerah penyuplai sampah dan belum menikmati energi listrik yang dihasilkan dari pengolahan tersebut.
Namun, ke depan tidak menutup kemungkinan adanya skema kompensasi dari hasil pengolahan.
Kerja sama ini diharapkan membantu mengurangi beban sampah di Maros.
Saat ini, produksi sampah di daerah tersebut mencapai sekira 200 ton per hari yang seluruhnya masih dibuang ke TPA Bontoramba.
TPA Bontoramba memiliki luas sekitar 5 hektar dan kondisinya saat ini hampir melebihi kapasitas.
Pemerintah daerah pun tengah menjajaki rencana perluasan area mengantisipasi lonjakan volume sampah.(*)
| DPRD Usul Tambah Lampu Jalan di Makassar Demi Kurangi Kejahatan |
|
|---|
| Layanan Kesehatan Gratis Pemkot Makassar Dipuji Warga, DPRD Dorong Peningkatan Fasilitas RSUD Daya |
|
|---|
| Belanja Online dan Pinjol Bisa Sebabkan Bansos Dicabut, DPRD Makassar Ingatkan Warga |
|
|---|
| DPRD Makassar Tunggu Usulan Pemkot Susun Perda LGBT |
|
|---|
| Tamangapa Paling Ideal Jadi Lokasi PSEL Makassar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muetazim-Mansyur-MoU-PSEL.jpg)