Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

PSBM XXVI

Sherly Laos Jadi Perhatian, Bongkar Rahasia Pertumbuhan Ekonomi Malut Juara 2025

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda atau Sherly Laos menjadi perhatian utama pada Pertemuan Saudagar Bugis Makassar

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com/Muh. Abdiwan
EKONOMI MALUT-Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda atau Sherly Laos menjadi perhatian utama pada Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Hotel Claro Makassar, Jl AP Pettarani, Kota Makassar, Sulsel, Kamis (26/3/2026). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Ekonomi Maluku Utara tahun 2025 tumbuh impresif, mencapai 34,17 persen (c-to-c) dengan nilai PDRB ADHB mencapai Rp133,62 triliun.  

Hal serupa juga terjadi pada komoditas telur. 

Dengan asumsi satu penduduk mengonsumsi satu butir telur per hari, kebutuhan tahunan mencapai sekitar 400 juta butir.

Jika dihitung dengan harga Rp2.000 per butir, potensi pasarnya mencapai sekitar Rp800 miliar per tahun.

“Di Maluku Utara harga telur rata-rata Rp2.500. Jadi potensinya masih sangat luas,” kata Sherly.

Potensi perikanan dan beras

Selain sektor peternakan, Sherly juga menyoroti potensi besar sektor perikanan di kawasan Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, potensi perikanan di wilayah tersebut diperkirakan mencapai Rp14 triliun. 

Namun hingga kini baru sekitar 20 persen yang dimanfaatkan.

“Masih kurang armada tangkap, investor, cold storage, dan fasilitas pengolahan,” ujarnya.

Di sektor pangan, kebutuhan beras Maluku Utara mencapai sekitar Rp2,5 triliun per tahun.

Untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, pemerintah daerah membuka lahan baru seluas 10.000 hektare untuk pengembangan pertanian padi.

Industri kelapa berkembang pesat

Sherly juga menyinggung potensi komoditas kelapa di Maluku Utara yang saat ini produksinya mencapai sekitar 1,5 miliar butir per tahun.

Namun ia menilai produktivitas lahan masih bisa ditingkatkan. 

Saat ini satu hektare kebun kelapa rata-rata hanya ditanami 70 hingga 80 pohon, padahal idealnya bisa mencapai 120 pohon per hektare.

Seiring dengan peningkatan bibit dan pembangunan industri pengolahan, produksi kelapa diproyeksikan meningkat pesat.

Saat ini dua pabrik pengolahan kelapa telah beroperasi dan satu pabrik lainnya sedang dalam tahap pembangunan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved