Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

PSBM XXVI

Sherly Laos Jadi Perhatian, Bongkar Rahasia Pertumbuhan Ekonomi Malut Juara 2025

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda atau Sherly Laos menjadi perhatian utama pada Pertemuan Saudagar Bugis Makassar

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com/Muh. Abdiwan
EKONOMI MALUT-Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda atau Sherly Laos menjadi perhatian utama pada Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Hotel Claro Makassar, Jl AP Pettarani, Kota Makassar, Sulsel, Kamis (26/3/2026). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Ekonomi Maluku Utara tahun 2025 tumbuh impresif, mencapai 34,17 persen (c-to-c) dengan nilai PDRB ADHB mencapai Rp133,62 triliun.  

“Alhamdulillah, saat ini saya masih berada di posisi nomor lima, sementara Ibu Sherly berada di posisi nomor satu,” katanya.

Mantan Pangdam XIV/Hasanuddin merujuk pada capaian Provinsi Maluku Utara yang dipimpin Gubernur Sherly Tjoanda, yang berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 32,09 persen pada Triwulan III 2025, tertinggi di Indonesia. 

Ia mengaku banyak belajar dari keberhasilan Maluku Utara, khususnya dalam strategi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Saya juga menyadari bahwa ketika berbicara tentang kesuksesan, tentu saya belum bisa dibandingkan dengan Ibu Sherly. Bagaimana Ibu Sherly bisa mencapai angka 33 persen, tentu karena beliau banyak berdiskusi dan berusaha mencari cara untuk meningkatkan pencapaian hingga 30 persen,” jelasnya.

Sherly mengakui pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada 2025 menjadi yang tertinggi di Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara year on year mencapai 34 persen, tertinggi se-Indonesia. Ini terjadi karena hilirisasi nikel,” ujarnya.

Menurut Sherly, provinsi yang dipimpinnya memproduksi sekitar 40 hingga 50 persen nikel Indonesia, bahkan sekitar 20 persen dari produksi nikel dunia.

Namun dibalik pertumbuhan tersebut, ia mengakui pembangunan di Maluku Utara masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam pemerataan ekonomi dan kesiapan sektor pendukung.

Ia menjelaskan, kebutuhan pangan dan logistik di wilayahnya masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Sekitar 80 persen kebutuhan Maluku Utara masih dipasok dari luar, terutama dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan,” katanya.

Karena itu, Sherly secara khusus mengundang para pengusaha Bugis yang memiliki pengalaman dalam perdagangan, pelayaran, logistik hingga sektor peternakan untuk melihat langsung peluang usaha di daerahnya.


Peluang besar sektor pangan

Sherly memaparkan sejumlah peluang investasi yang menurutnya masih terbuka lebar di Maluku Utara.

Untuk sektor peternakan ayam misalnya, dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, kebutuhan ayam mencapai sekitar 25.000 ton per tahun.

Dengan asumsi harga Rp40 ribu per kilogram, nilai pasar ayam di Maluku Utara diperkirakan mendekati Rp1 triliun.

“Padahal harga ayam di Maluku Utara sekarang bisa Rp50 ribu sampai Rp55 ribu per kilo karena biaya logistik yang tinggi. Artinya peluang membangun peternakan ayam masih sangat besar,” jelasnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved