Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Israel Serang Iran

GPEI Sulselbar: Konflik AS-Israel dan Iran Ganggu Logistik Global

Menurut Arief, dari sisi perdagangan langsung, hubungan ekspor-impor Indonesia dengan Israel dan Iran selama ini memang relatif kecil. 

Penulis: Rudi Salam | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Rudi Salam
PERDAGANGAN GLOBAL - Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) Arief R Pabettingi. Arief menilai konflik militer antara AS-Israel dan Iran berpotensi menimbulkan dampak terhadap perdagangan global. 

 TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Arief R Pabettingi, menilai konflik militer antara AS-Israel dan Iran berpotensi menimbulkan dampak terhadap perdagangan global.

Khususnya dari sisi biaya logistik dan rantai pasok energi dunia.

Menurut Arief, dari sisi perdagangan langsung, hubungan ekspor-impor Indonesia dengan Israel dan Iran selama ini memang relatif kecil. 

Hal yang sama juga berlaku untuk Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Untuk kondisi ekspor-impor kedua negara terhadap sangat kecil. Jangankan Sulsel, Indonesia saat itu memang sangat kecil prospeknya untuk ekspor dan impor ke kedua negara tersebut, baik Israel maupun Iran,” kata Arief, di Makassar, Senin (2/3/2026).

Olehnya, jika terjadi agresi militer atau perang terbuka antara kedua negara, dampaknya secara langsung terhadap aktivitas perdagangan di Indonesia, termasuk di Sulsel, dinilai tidak terlalu signifikan.

Dampak yang paling mungkin dirasakan bukan pada hubungan dagang bilateral, melainkan pada efek global.

Terutama jika konflik memicu gangguan di jalur logistik strategis seperti Selat Hormuz. 

Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Apabila terjadi gangguan atau penutupan jalur tersebut, kapal-kapal kargo berpotensi harus mengambil rute alternatif yang lebih jauh. 

Kondisi ini akan meningkatkan biaya operasional dan waktu tempuh pengiriman barang.

“Dampaknya pasti ada, terutama pada penurunan volume barang yang dikirim. Mengingat biaya logistik akan menjadi mahal, sehingga komoditas yang diperdagangkan juga ikut menjadi lebih mahal,” jelasnya.

Kenaikan biaya logistik dan harga energi, lanjut Arief, pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga barang di pasar internasional maupun domestik. 

Jika harga komoditas naik, maka daya beli masyarakat berpotensi melemah.

Ia menegaskan pelaku ekspor perlu mencermati dinamika geopolitik global meski tidak memiliki hubungan dagang besar dengan kedua negara tersebut.

“Ekonomi kita terintegrasi dengan pasar global. Jadi meskipun bukan mitra dagang utama, efek kenaikan biaya logistik dan energi tetap bisa dirasakan,” kata Arief.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved