Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Israel Serang Iran

Kadin Sulsel Minta Pengusaha Tidak Panik Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah

Dunia usaha di Sulsel mulai merasakan tekanan pada peningkatan biaya transportasi, distribusi barang, hingga operasional industri.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Alfian
Istimewa/Satriya Madjid
KONFLIK TIMUR TENGAH - Wakil Ketua Umum Kadin Sulsel Satriya Madjid. Satriya Madjid meminta pengusaha tetap tenang menghadapi dampak konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan (Sulsel) Satriya Madjid meminta pengusaha tetap tenang menghadapi dampak konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran tersebut dinilai akan memberikan banyak dampak.

Namun, dampak konflik saat ini masih berada pada tahap awal atau early impact, terutama dirasakan pada sektor energi dan logistik.

Menurut Satriya, dunia usaha di Sulsel mulai merasakan tekanan pada peningkatan biaya transportasi, distribusi barang, hingga operasional industri.

“Dampak konflik Timur Tengah sudah mulai terasa, namun masih pada tahap awal, terutama pada sektor energi dan logistik,” kata Satriya, kepada Tribun-Timur.com, di Makassar, Selasa (10/3/2026).

Baca juga: Pelaut Asal Takalar Abdul Salam Hilang di Selat Hormuz Iran, Keluarga Harap Ada Kepastian Informasi

Meski demikian, Satriya menegaskan bahwa dampak tersebut masih bersifat tidak langsung. 

Hal ini karena Sulsel tidak memiliki hubungan perdagangan langsung yang signifikan dengan kawasan yang tengah dilanda konflik.

Ia pun mengimbau para pengusaha di daerah agar tidak panik dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang terjadi saat ini.

“Kami juga menghimbau para pengusaha agar tidak panik dalam menghadapi situasi global saat ini. Kita percayakan kepada pemerintah untuk mengambil langkah-langkah taktis, termasuk mengantisipasi cadangan minyak menjelang hari raya,” jelasnya.

Untuk menghadapi berbagai dampak dari konflik Timur Tengah, Satriya menyarankan beberapa langkah antisipasi.

Antara lain diversifikasi pasar ekspor dengan memperluas pasar ke Asia Selatan, Afrika, dan kawasan ASEAN, sehingga tidak bergantung pada pasar tertentu. 

Selain itu, diperlukan efisiensi dan substitusi energi dengan mendorong penggunaan energi surya untuk industri dan cold storage perikanan, serta efisiensi bahan bakar dalam distribusi logistik.

Pelaku ekspor juga dapat memanfaatkan kontrak jangka menengah dengan mengunci harga kontrak dan biaya pengiriman (freight) lebih awal untuk mengurangi volatilitas. 

“Penguatan rantai pasok lokal juga perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor, khususnya di sektor manufaktur dan pengolahan hasil pertanian,” kata Satriya.

Ia juga menyampaikan saran kepada pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi dengan memastikan pasokan BBM tetap stabil dan tidak menaikkan harga secara drastis jika harga global melonjak. 

Selain itu, ia juga menilai diperlukan subsidi atau insentif biaya kontainer untuk komoditas ekspor unggulan Sulsel.

Juga percepatan hilirisasi nikel dan kakao agar ekspor bernilai tambah tinggi, serta penguatan cadangan pangan daerah untuk menjaga stabilitas harga jika terjadi lonjakan biaya distribusi.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved