Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Polisi Dianiaya Senior

Fakta Baru Bripda Pirman, Temani Bripda DP di Rumah Sakit, Raut Wajahnya Jadi Perhatian

Namun saat Polda Sulsel mendalami kasus itu, terungkap Bripda DP tewas ditangan seniornya Bripda Pirman.

Penulis: Rachmat Ariadi | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
BRIPDA PIRMAN - Dari foto yang diterima Tribun-Timur.com, Bripda Pirman terlihat duduk jongkok bersandar menemani Bripda DP yang terbaring sedang dirawat. Raut wajahnya bak dipenuhi penyesalan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Kasus tewasnya anggota Direktorat Samapta Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) Bripda DP (19) membuat institusi Polri menjadi sorotan publik.

Kematian Bripda DP sempat dilaporkan karena membentur-benturkan kepalanya sendiri, seolah mengarah pada tindakan bunuh diri.

Namun saat Polda Sulsel mendalami kasus itu, terungkap Bripda DP tewas ditangan seniornya Bripda Pirman.

Bripda Pirman bahkan sempat menemani korban saat dirawat di rumah sakit.

Dari foto yang diterima Reporter Tribun-Timur.com, Rachmat Ariadi, Selasa (24/2/2026), Bripda Pirman terlihat duduk jongkok bersandar menemani Bripda DP yang terbaring sedang dirawat.

Raut wajahnya bak dipenuhi penyesalan.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengatakan, laporan awal yang diterima Bid Propam menyebut korban meninggal akibat membentur-benturkan kepalanya sendiri ke tembok asrama.

Namun, hasil pemeriksaan tidak mendukung informasi tersebut.

"Laporan awal yang kami terima yang bersangkutan meninggal karena membentur-benturkan kepala. Namun kita tidak percaya begitu saja. Apa yang disampaikan oleh anggota bahwa dia membentur-benturkan kepalanya itu tidak benar," katanya kepada awak media di Mapolres Pinrang usai melayat ke rumah Bripda DP, Senin (23/2/2026).

Proses pembuktian kemudian dilakukan melalui pemeriksaan ilmiah oleh tim kedokteran dan forensik kepolisian.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes), terdapat persesuaian antara keterangan tersangka Bripda Pirman dengan bukti fisik yang ditemukan berupa luka pukulan di bagian kepala dan badan korban.

"Keterangan saudara P dihubungkan dengan hasil pemeriksaan Biddokkes menunjukkan adanya persesuaian, baik dari luka pukulan di bagian kepala maupun bagian tubuh lainnya. Ini sudah sinkron," ungkapnya.

Pihak kepolisian kini tengah memproses lebih lanjut kasus ini untuk memberikan kepastian hukum.

Djuhandhani menyebut ada lima anggota yang saat ini masih dalam proses pemeriksaan intensif.

Salah satu di antaranya diketahui merupakan rekan satu angkatan korban.

Meski demikian, Kapolda menekankan pentingnya asas praduga tak bersalah dan pemenuhan bukti materiil sebelum menetapkan status hukum mereka.

"Dari lima ini anggota semua, ada satu teman angkatan. Keterlibatan mereka masih kami dalami, kalau orang tidak bersalah kita tidak boleh hukum. Tadi malam kita sudah lakukan konstruksi ulang," jelasnya.

Keluarga Curiga Sejak Awal Bripda DP Meninggal Dianiaya

Sebelumnya, Bripda DP dikabarkan meninggal dunia di Asrama Ditsamapta Polda Sulsel, Minggu (22/2/2026) subuh.

Asrama tersebut berada di lingkungan Mapolda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Untuk memastikan penyebab kematian, jenazah Bripda DP diautopsi di RS Bhayangkara.

Ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, mengatakan berdasarkan koordinasi sementara dengan Bidang Propam Polda Sulsel, ada enam polisi yang diperiksa.

Enam orang tersebut terdiri dari teman seangkatan dan senior Bripda DP.

“Sudah ada diperiksa di Polda sekarang, tiga, lettingnya juga dipanggil semua,” ujar Aipda Muhammad Jabir saat ditemui di depan Ruang Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel.

“Lettingnya tiga orang dan seniornya juga tiga orang,” lanjutnya.

Dugaan penganiayaan mencuat setelah keluarga menemukan luka memar di tubuh almarhum.

Aipda Muhammad Jabir menyebut luka memar diduga akibat pukulan.

“Ada luka memar di perut, di sini (dada dekat leher) hitam, sama mulut keluar darah terus,” ujarnya.

Sebagai anggota polisi, Aipda Muhammad Jabir menduga luka tersebut teridentifikasi kuat akibat pukulan.

“Kalau benda tumpul mungkin tidak ada, kalau bekas pukulan mungkin ada,” jelasnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved