Banjir Makassar
Cuaca Ekstrem, EWS Jadi Andalan BPBD Makassar Antisipasi Banjir
Fadli mengingatkan, pada tahun lalu Makassar sempat dilanda banjir besar sebanyak dua kali, yakni pada akhir Desember dan awal Februari
Penulis: Siti Aminah | Editor: Ari Maryadi
Ringkasan Berita:
- Kecamatan Panakkukang, Manggala, dan Biringkanaya tergenang akibat cuaca ekstrem
- Di Kecamatan Manggala, tepatnya di Masjid Jabal Nur, terdapat 23 jiwa (8 KK) pengungsi
- Sementara di Biringkanaya dan Panakkukang, kondisi perlahan membaik
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tiga kecamatan di Makassar terdampak cuaca ekstrem.
Kecamatan Panakkukang, Manggala, dan Biringkanaya.
Ketiga kecamatan tersebut terpantau tergenang.
Ketinggian air mulai 10 cm hingga 100 cm.
“Seperti kita ketahui titik-titiknya itu di Jl Antang Raya, ketinggian air mencapai sampai 100 sentimeter. Di Biringkanaya dan Manggala sampai 50 sentimeter,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Makassar, M Fadli Tahar, Selasa (24/2/2026).
Di Kecamatan Manggala, tepatnya di Masjid Jabal Nur, terdapat 23 jiwa (8 KK) pengungsi.
Sementara di Biringkanaya dan Panakkukang, kondisi perlahan membaik.
Banjir dan genangan perlahan surut mengingat intensitas hujan dan berfungsinya sistem drainass.
Kata Fadli, personel BPBD telah disiagakan di lokasi untuk memberikan pelayanan dan bantuan kepada warga terdampak.
Fadli mengingatkan, pada tahun lalu Makassar sempat dilanda banjir besar sebanyak dua kali, yakni pada akhir Desember dan awal Februari.
Syukurnya, hingga memasuki akhir Februari tahun ini, banjir besar tak terjadi.
Ia menilai, salah satu faktor yang membantu meminimalkan dampak banjir adalah koordinasi lintas sektor yang dilakukan sejak awal masa kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin.
Pembersihan dan normalisasi kanal serta saluran gencar dilakukan.
"Sekarang kalau kita lihat, banjir memang sempat terjadi, tetapi air cepat turun dan tidak lama menggenang,” jelasnya.
Pemerintah pun terus mendorong kolaborasi antara masyarakat, BPBD, Dinas Pekerjaan Umum (PU).
Serta instansi terkait lainnya untuk menjaga kebersihan, mengurangi sampah, dan memastikan drainase berfungsi optimal sebagai langkah pencegahan.
Terkait mitigasi, BPBD Makassar telah mengoperasikan sistem Early Warning System (EWS) atau alat deteksi dini banjir yang diadakan tahun lalu.
Sistem ini diklaim menjadi salah satu terobosan dalam upaya pengurangan risiko bencana.
“Bencana itu pasti datang, tetapi kita harus tahu kapan datangnya. Itu gunanya deteksi dini," kata Fadli.
"Dengan adanya EWS, masyarakat bisa menyelamatkan dokumen penting seperti ijazah, akta kelahiran, sertifikat tanah, dan yang paling penting meminimalkan risiko korban jiwa,” sambungnya.
EWS tersebut dilengkapi alarm berupa sirene di lokasi serta notifikasi melalui SMS dan WhatsApp yang terkoneksi langsung ke berbagai stakeholder.
Mulai dari BPBD, pemerintah kelurahan, hingga Dinas PU dan Dinas Sosial.
Status peringatan dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni waspada, siaga, dan awas (merah).
Pada status awas, alarm akan berbunyi dan notifikasi dikirim secara berulang sebagai tanda bahwa potensi banjir besar sangat tinggi atau telah terjadi.
“Kalau masih status waspada, biasanya informasi dikirim satu kali sehari. Kalau sudah siaga bisa dua kali sehari. Kalau status awas, berulang-ulang kali sebagai warning bagi masyarakat dan stakeholder untuk menyiapkan semua potensi,” jelasnya.
Dengan kondisi cuaca yang masih berpotensi ekstrem hingga awal Maret, masyarakat Makassar diimbau tetap waspada.
Warga juga diminta memantau informasi resmi BMKG dan BPBD, serta segera melapor jika terjadi genangan atau kondisi darurat di wilayah masing-masing.
Sebelumnya, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengingatkan warga agar berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah pada kondisi cuaca ekstrem.
“Saat ini curah hujan masih relatif sangat tinggi sehingga saya berharap untuk semua bisa mawas diri, menghindari dari kegiatan atau hal-hal yang bisa berakibat fatal datangnya bencana," imbau Munafri.
Munafri menyoroti kondisi sejumlah pohon di Kota Makassar yang dinilai sudah berusia tua dan rentan tutumbang
Ia menjelaskan, banyak pohon yang akarnya terhimpit konstruksi beton di sekitarnya.
Sehingga tidak lagi memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh dan mencengkeram tanah dengan kuat.
Akibatnya, saat hujan deras disertai angin kencang, pohon tidak patah pada bagian batang, melainkan tercabut hingga ke akar.
“Beberapa kejadian pohon tumbang bukan karena batangnya patah, tetapi karena akarnya tercabut. Artinya, kondisinya memang sudah tidak kuat menopang beban. Ini yang harus kita waspadai bersama,” jelasnya.
Masyatakat diharapkan menghindari aktivitas di sekitar pohon besar saat cuaca ekstrem.
Bagi Munafri, kewaspadaan terhadap potensi bencana adalah bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan masyarakat di Kota Makassar. (*)
| Anak dan Ibu Terdampak Banjir di Makassar Dapat Psikoedukasi dari Melinda Aksa |
|
|---|
| Camat Panakkukang: Kini Banjir Makassar Lebih Terkontrol dari Sebelumnya |
|
|---|
| Air Rendam Jalan Yusuf Daeng Ngawing Makassar Saat Hujan Deras, Dekat Rujab Wagub Sulsel |
|
|---|
| Biasanya Sejam Hujan Langsung Tergenang, Kini BTN Tabariah Mannuruki Aman |
|
|---|
| 1.157 Warga Mengungsi Akibat Banjir Makassar, Malam-malam Munafri Tinjau Posko SDN Paccerakkang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260224-M-Fadli-Tahar-32.jpg)