Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Podcast Tribun Timur

Dinamika PBNU Wajar, NU Sulsel Optimistis Jalan Islah Terbuka

Apalagi sampai mengambil posisi mendiskreditkan atau berpihak dalam konteks dukung-mendukung antara Gus Yahya dan Rais Aam.

Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Sudirman
TRIBUN TIMUR/TRIBUN TIMUR
PODCAST - Ketua Tanfidziyah PCNU Makassar, Dr Usman Sofian dan Prof Firdaus Muhammad saat podcast Tribun Timur. Podcast membahas Ngobrol Virtual: Konflik PBNU: Islah dan Peran Kiai-Kiai Sepuh. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Ketua Tanfidziyah PCNU Makassar, Dr Usman Sofian menegaskan pentingnya merinci isi imbauan yang telah dikeluarkan sekaligus menyampaikan perkembangan terbaru di internal organisasi.

Ia menekankan agar warga jamiyah, khususnya di tingkat cabang Makassar, tidak larut dalam dinamika yang terjadi.

Apalagi sampai mengambil posisi mendiskreditkan atau berpihak dalam konteks dukung-mendukung antara Gus Yahya dan Rais Aam.

Dalam Ngobrol Virtual: Konflik PBNU: Islah dan Peran Kiai-Kiai Sepuh, Usman Sofian tempil sebagai narasumber bersama Prof Firdaus Muhammad, Wakil Ketua PWNU Sulsel di Studio Tribun Timur.

Menurutnya, keduanya bukan hanya pemimpin struktural, tetapi juga simbol pemimpin moral dan kultural di NU.

Karena itu, penting untuk menjaga situasi tetap kondusif dan fokus pada nilai-nilai kebersamaan dalam jamiyah.

Berikut hasil wawancara khusus dengan dua narasumber:

Apa sebenarnya hasil koordinasi atau penyampaian dari Kiai Harun dalam pertemuan itu?

Usman Sofian: Penekanan beliau adalah agar lebih merinci apa yang telah tertuang dalam imbauan resmi, sekaligus menyampaikan perkembangan terkini.

Fokusnya pada bagaimana menjaga situasi internal jamiyah, khususnya di level cabang Makassar, agar tidak larut dalam dinamika yang berkembang.

Terlebih lagi, jangan sampai muncul sikap mendiskreditkan atau dukung-mendukung, misalnya antara Gus Yahya dan Rais Aam.

Keduanya bukan hanya pemimpin struktural, tetapi juga simbol pemimpin moral dan kultural. Itu yang ditekankan.

Beliau juga mengingatkan bahwa dinamika yang ramai di media sosial sebagian besar hanya berasal dari simpatisan NU, bukan dari struktur resmi.

Banyak yang menunggu momentum seperti ini untuk dijadikan bahan mendiskreditkan NU di ruang publik.

Terkait isu-isu yang berkembang, seperti tata kelola keuangan atau isu tambang, saya sendiri belum sampai pada tafsir tersebut. Apa pun yang terjadi di NU pasti dibahas melalui mekanisme yang ada.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved