Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Podcast Tribun Timur

Dinamika PBNU Wajar, NU Sulsel Optimistis Jalan Islah Terbuka

Apalagi sampai mengambil posisi mendiskreditkan atau berpihak dalam konteks dukung-mendukung antara Gus Yahya dan Rais Aam.

Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Sudirman
TRIBUN TIMUR/TRIBUN TIMUR
PODCAST - Ketua Tanfidziyah PCNU Makassar, Dr Usman Sofian dan Prof Firdaus Muhammad saat podcast Tribun Timur. Podcast membahas Ngobrol Virtual: Konflik PBNU: Islah dan Peran Kiai-Kiai Sepuh. 

Karena itu, kami lebih memilih menjaga ketertiban organisasi, sebab reaksi berlebihan dari struktur di bawah tidak memberikan dampak langsung pada dinamika di PBNU.

Kami yakin proses ini akan selesai. NU dalam perjalanan panjangnya—yang akan memasuki 103 tahun pada 2027—telah berkali-kali melewati dinamika internal maupun relasinya dengan kekuasaan.

Di empat muktamar terakhir pun dinamika selalu muncul, tetapi faktanya tidak pernah ada PBNU tandingan, tidak ada pula yang keluar dari keanggotaan PBNU. Itu bukti ketangguhan jamiyah.

Meminjam istilah Gus Mus: menjadi pengurus NU jangan mudah kagetan. Bahkan beliau pernah mengingatkan, “jadi kiai jangan terlalu serius”.

Artinya, persoalan ini harus dilihat secara proporsional. Jika berpikir positif dan mengedepankan kepentingan jamiyah, pada akhirnya akan ditemukan solusi terbaik.

Harapan kita, apakah keputusan Rais Aam ataupun sikap Gus Yahya, dapat saling diterima dengan keluasan hati—atau ada ruang saling membuka diri. Itu bentuk solusi.

Turbulensi seperti ini sesuatu yang biasa bagi kami yang lahir-besar dalam kultur NU dan membaca sejarah dinamika jamiyah.

Secara pribadi, dinamika ini justru menjadi momen untuk memperdalam khidmat, lebih dewasa berjamiyah, dan lebih rajin membaca aturan organisasi.

Bagaimana jalan menuju rekonsiliasi yang paling realistis dan tetap dalam tradisi NU?

Firdaus Muhammad: Pertama, kita harus memberi pengakuan atas marwah, kehormatan, dan kewibawaan Syuriah. Konflik ini jangan sampai mereduksi posisi ulama di Syuriah.

Jika ada persoalan administratif, seperti persuratan yang dianggap belum jelas, itu bisa diselesaikan melalui mekanisme organisasi. Jangan sampai persoalan ini menggerus wibawa Syuriah.

Kedua, berikan ruang tabayyun kepada Gus Yahya terkait persoalan yang ditujukan kepadanya. Ini penting agar ada rasionalisasi: apa dasar atau dalil yang membuat seseorang harus diberhentikan.

Sebab dua isu yang berkembang masih sangat abstrak. Kalau pun dianggap sudah konkret, silakan Gus Yahya menjelaskan secara tertutup—baik soal isu Zionis maupun isu keuangan.

Pertemuan seperti itu idealnya tanpa ponsel dan tanpa rekaman, supaya tidak dimanfaatkan pihak-pihak iseng. Seharusnya surat Syuriah hanya diterima oleh Gus Yahya, bukan lebih dulu diketahui publik.

Ruang tabayyun penting agar masyarakat, termasuk di luar NU, tidak menilai bahwa Gus Yahya dizalimi. Setelah tabayyun, langkah islah dapat ditempuh sehingga tercapai kesepahaman.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved