Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haul AGH Abdurrahman Ambo Dalle

Teladani AGH Ambo Dalle, Prof Muammar Bakry: Transformasi Dakwah Lewat Medsos

Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar hadir dengan mengenakan setelan sarung putih dan baju hitam sambil membawa tasbih.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Jabal Qubais
HAUL AGH - Potret tokoh dan ulama hadiri Haul ke-29 AGH Abdurrahman Ambo Dalle di Ponpes Al Mubarak Darul Dakwah Wal Irsyad (DDI) Tobarakka Siwa, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu (30/11/2025) 

Ambo Dalle dilahirkan di Desa Ujunge, Kecamatan Tanasitolo, sebuah kampung di pinggiran Danau Tempe yang terletak sekitar tujuh km dari Kota Sengkang, Ibu Kota Kabupaten Wajo.

Tak tercatat tangga kelahirannya. Dalam berbagai literatur dan data, Sang Maha Guru ditulis lahir pada hari Selasa siang tahun 1900. Ayahnya bernama Puang Ngati Daeng Patobo dan ibunya Puang Candara Dewi (Puang Cendaha).

Saat mengandung, konon Puang Cendaha bermimpi melihat cahaya yang keluar dari perutnya.

Bayi itu diberi nama Ambo Dalle. Dalam Bahasa Bugis, Ambo berarti bapak dan Dalle berarti rezeki. Jadi, Ambo Dalle berarti sumbernya rezeki.

Ambo Dalle mula-mula belajar mengaji pada tantenya, I Midi. Tapi hanya berlangsung 15 hari. Puang Cendaha khawatir Ambo Dalle terpengaruh dengan perilaku anak sebayanya yang lebih banyak bermain saat pergi mengaki di rumah I Midi, maka sang ibu memutuskan mengajari langsung anaknya di rumah sendiri sehingga lebih mudah mengawasinya.

Setamat mengaji, Ambo Dalle dimasukkan mengaji tajwid (massara’ baca) pada pengajian yang diasuh oleh Puang Caco, kakeknya, yang kebetulan Imam UjungE. Selain belajar, ia juga membantu kakeknya mengajari anak-anak lainnya.

Selanjutnya, Ambo Dalle melanjutkan pelajaran tajwidnya (baca pituE), menghafal Al Quran, serta belajar Nahwu dan Sharaf pada H Muhammad Ishaq, ulama setempat yang dikenal ahli dalam bidang ilmu tersebut, selama tiga bulan.

Dalam usia tujuh tahun, Ambo Dalle sudah mampu menghafal Al Quran dengan baik. Sejak itulah ia populer di kalangan masyarakat Tancung dan sekitarnya (Wajo) dan banyaklah anak-anak yang berdatangan untuk belajar mengaji kepadanya.

Karena di Tanasitolo belum ada lembaga pendidikan formal, Ambo Dalle ke Sengkang yang berjarak 7 km dari kediamannya, untuk menuntut ilmu lebih lanjut. Di kota ini ia memasuki sekolah Volk-School (sekolah desa tiga tahun) dan kursus Bahasa Belanda di Hollands Inlands School (HIS).

Yang dapat diterima di sekolah ini hanya kaum bangsawan pribumi.

Ambo Dalle muda nyaris tak punya waktu untuk bersantai. Hampir seluruh waktunya digunakan untuk belajar. Kalaupun ada waktu luang yang tersisa, itu digunakan untuk berolah raga. Olah raga yang digemarinya adalah sepak bola. Ambo Dalle dikenal sebagai pemain yang andal.

“Oleh teman-temannya, ia dijuluki si rusa karena memiliki nafas kuat dan lari yang kencang. Dalam kesebelasan, ia bisa menempati posisi mana saja. Baik posisi penyerang, gelandang, maupun pertahanan belakang. Selain itu, ia pun bisa memainkan sepak raga dengan gaya yang menawan,” jelas sejarawan DDI, Ahmad Rasyid Amberi Said.

Waktu itu, banyak ulama yang berasal dari Wajo yang belajar di Mekah pulang kampung membuka pengajian. Pelajaran yang diberikan meliputi Tafsir, Fiqhi, Nahwu dan Sharaf.

Pemerintah Kerajaan Wajo, Arung Matoa dan Arung Enneng, sangat senang pada ulama. K

arena itu, kerajaan sering kedatangan tamu dari Saudi Arabiyah, dan tinggal bersama selama beberapa waktu untuk memberikan pengajaran atau pengajian.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved