TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Di tangan Abdul Azis, sampah tak lagi sekadar limbah.
Dari sesuatu yang kerap dipandang tak bernilai, ia justru membangun sumber penghidupan sekaligus menggerakkan warga menjaga kebersihan lingkungan.
Sejak tak lagi bekerja di perusahaan, Abdul Azis memilih menekuni pengelolaan sampah sebagai tulang punggung ekonomi keluarga.
Langkah itu ia jalani konsisten sejak 2008, jauh sebelum konsep bank sampah dikenal luas.
Pria kelahiran Makassar, 21 Mei 1968 ini merupakan lulusan SMA Negeri 4 Makassar.
Kini, ia dipercaya sebagai Ketua RT 002 RW 002 dan aktif mengelola bank sampah di Kelurahan Parangloe.
“Dulu hanya kumpul sampah biasa, belum ada istilah bank sampah. Sekarang baru berkembang seperti ini,” ujarnya kepada Tribun-Timur.com, Kamis (30/4/2026).
Meski sudah lama berjalan, geliat bank sampah di wilayahnya baru benar-benar terasa dalam sebulan terakhir.
Kesadaran warga meningkat, ditandai dengan kebiasaan memilah sampah dari rumah.
“Sekarang luar biasa. Warga sudah pilah, lalu langsung bawa ke sini,” katanya.
Berbeda dari kebanyakan bank sampah, Abdul Azis menerapkan sistem bayar langsung di tempat.
Tanpa tabungan atau rekening, sampah yang disetor warga langsung ditimbang dan dibayar tunai.
“Orang mau cepat. Jadi kami bayar langsung. Itu yang bikin mereka semangat,” jelasnya.
Pendekatan itu terbukti efektif. Dalam empat hari, volume sampah yang terkumpul bisa menembus lebih dari 100 kilogram.
Sampah tersebut kemudian didistribusikan ke pabrik melalui jaringan relasi yang telah lama ia bangun.
Untuk memperluas jangkauan, ia juga menyiapkan sistem jemput sampah.
Anggotanya siaga mengambil sampah dari rumah warga, sementara pekerja lain dilengkapi gerobak motor untuk menyisir enam RW di Kelurahan Parangloe.
Langkah ini tak hanya mempermudah warga, tetapi juga membuka peluang kerja baru.
Perjalanan Abdul Azis sendiri bermula dari titik sulit.
Setelah sekitar 15 tahun bekerja di pabrik kayu lapis, ia terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat penolakan terhadap sistem kerja dua shift masing-masing 12 jam.
“Kami tidak setuju, akhirnya demo. Saya termasuk yang keluar,” ungkapnya.
Alih-alih kembali menjadi karyawan, ia memilih jalur berbeda, membangun usaha dari sektor yang kerap diabaikan.
“Sejak itu saya fokus di sampah. Alhamdulillah, hampir 20 tahun ini bisa jadi sumber ekonomi keluarga,” katanya.
Sebagai Ketua RT, Abdul Azis tak hanya bergerak di sektor ekonomi, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir warga.
RW 002 kini menjadi salah satu wilayah percontohan di Kelurahan Parangloe.
Berbagai program berjalan beriringan, mulai dari bank sampah, lorong wisata, hingga urban farming.
Kegiatan kerja bakti rutin setiap Jumat pun terus digalakkan.
“Kami ingin wilayah ini jadi contoh. Bersih, tertata, dan ada nilai ekonominya,” ujarnya.
Di sisi lain, keamanan lingkungan dijaga melalui ronda malam yang rutin dilaksanakan warga.
Pengalaman hampir dua dekade mengelola sampah, Abdul Azis membuktikan bahwa sampah bukan akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari peluang, yang menggerakkan ekonomi warga sekaligus menjaga lingkungan tetap bersih.
PROFIL
Abdul Azis
Jabatan: Ketua RT 002 RW 002 Kelurahan Parangloe
Tempat Tanggal Lahir: Makassar, 21 Mei 1968
Alamat: Bontoa Selatan No. 131
Pendidikan: SMA Negeri 4 Makassar
Pekerjaan: Ketua RT dan Wirausaha
Hobi: Olahraga
Jumlah penduduk: 175 KK