Siapa Dalang Kerusuhan 298
Prof Qasim Minta Mahasiswa Kembali ke Kampus, Ajak Manfaatkan Teknologi
Prof Qasim juga menyinggung dinamika politik nasional sejak era Jokowi diteruskan Prabowo
Penulis: Renaldi Cahyadi | Editor: Ari Maryadi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof Qasim Mahtar, menegaskan kondisi sosial politik Indonesia saat ini tidak bisa dibandingkan dengan era-era sebelumnya.
Menurutnya, era digital telah mengubah cara masyarakat bergerak dan berinteraksi.
Pendekatan lama, termasuk demonstrasi di jalanan, sudah tidak efektif lagi.
Hal itu disampaikan usai kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini di Indoensia.
Aksi penjarahan, pembakaran fasilitas umum dan demonstrasi tak berujung membuat masyarakat menjadi was-was
Hal itu disampaikan dalam Dialog Forum Dosen dengan tema 'Pemulihan Bangsa' di Kantor Tribun Timur, Jl Cendrawasih, Kota Makassar, Rabu (3/9/2025).
“Saya cukup beruntung sudah berusia 78 tahun sehingga bisa merasakan perubahan zaman yang ekstrem. Sekarang ini era teknologi digital. Cara-cara yang dulu kami lakukan saat mahasiswa, sudah berbeda dengan kondisi sekarang,” kata Prof Qasim.
Ia menyoroti peristiwa kerusuhan yang terjadi di Makassar, aksi massa yang berujung pada pembakaran tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kekuatan yang menguasai teknologi informasi.
“Kalau rakyat bicara kita bisa menduga, tapi siapa pelakunya tidak bisa ditunjuk kecuali mereka yang menguasai teknologi. Yang rusuh itu bebas karena tidak bisa langsung diidentifikasi,” ungkapnya.
Prof Qasim juga menyinggung dinamika politik nasional sejak era Presiden Joko Widodo hingga kini diteruskan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyebut Prabowo masih mendapat dukungan mayoritas rakyat karena dianggap sebagai kelanjutan dari kebijakan Jokowi.
“Prabowo itu militer, dia merasa Jokowi berjasa besar. Tidak mungkin ada militer yang mengkhianati loyalitasnya. Digitalisasi boleh saja mengaduk-aduk, tapi suara mayoritas tetap ke mereka,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan kelompok-kelompok berideologi anti-Pancasila, anti-demokrasi, dan anti-NKRI masih bergerak secara diam-diam, memanfaatkan era digital.
“Semua kekuatan berideologi yang sudah digilas di masa lalu masih melakukan kaderisasi. Tapi tanggal 29 kemarin sudah tercium. Presiden juga sudah tahu, tinggal bagaimana menindak tanpa menimbulkan keributan,” ungkapnya.
Prof Qasim juga mengkritik sikap sejumlah guru besar yang kerap mengeluarkan pernyataan politik partisan.
| 9 Profesor 3 Aktivis Lintas Kampus Bahas Pemulihan Bangsa di Tribun Timur |
|
|---|
| Moch Hasymi Sebut Pola Demonstrasi Kini Berbeda Dibandingkan Era Dulu |
|
|---|
| Prof Mustari Mustafa Sebut Demo Anarkis karena Modal Sosial Pemerintah Tidak Cukup |
|
|---|
| Mulawarman: Ketika Rakyat Menggugat, Intelektual Menghilang |
|
|---|
| Prof Muin Fahmal : Negara Kita Salah Urus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250903-Prof-Qasim-Mahtar.jpg)