Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Provinsi Luwu Raya

2 Hari Jalan Trans Sulawesi Ditutup Pendemo, Ratusan Pengendara Terjebak

Aliansi Mahasiswa Wija to Luwu mulai memblokade Jalan Trans Sulawesi sejak Jumat (23/1/2026) siang

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Andi Bunayya Nandini | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Andi Bunayya Nandini
DEMO HPRL - Aliansi Mahasiswa Wija to Luwu blokade Jalan Trans Sulawesi tepat di depan SDN 112 Mamara, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Sudah lebih dari 24 jam mereka menutup jalan dan mengakibatkan kemacetan panjang. 

Ringkasan Berita:
  • Sudah lebih dari 24 jam Jalan Trans Sulawesi ditutup demonstran
  • Aliansi Mahasiswa Wija to Luwu mulai memblokade Jalan Trans Sulawesi sejak Jumat (23/1/2026) siang
  • Ratusan kendaraan roda empat, truk, bus, hingga mobil terjebak macet

 

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Sudah lebih dari 24 jam Jalan Trans Sulawesi, tepat di depan SDN 112 Mamara, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, ditutup demonstran.

Diketahui, Aliansi Mahasiswa Wija to Luwu mulai memblokade Jalan Trans Sulawesi sejak Jumat (23/1/2026) siang.

Mereka memblokade jalan dengan menebang tiga pohon besar di depan SDN 112 Mamara itu.

Hal itu mengakibatkan kemacetan sepanjang enam kilometer ke arah selatan dan tiga kilometer ke arah utara.

Ratusan kendaraan roda empat, truk, bus, hingga mobil pengangkut bahan bakar minyak (BBM) terjebak kemacetan panjang.

Karena kemacetan itu, tak satupun SPBU di Luwu Utara terbuka pada Sabtu (24/1/2026).

Jenderal Lapangan Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu, Alif Nugraha, mengatakan penutupan jalan dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai belum merealisasikan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya.

“Dua tuntutan itu menjadi fokus utama kami dalam aksi yang telah berlangsung selama dua hari ini,” ujar Alif, Sabtu (24/1/2026).

Meski begitu, Alif menjelaskan pihaknya tetap memberi jalan bagi kendaraan darurat seperti ambulans.

Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu menilai lambannya pembangunan dan pelayanan publik di wilayah Luwu Raya menjadi alasan utama tuntutan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Selain itu, mereka juga mendorong pemekaran Provinsi Luwu Raya karena menilai belum mendapat perhatian optimal selama berada di bawah Provinsi Sulawesi Selatan.

“Selama ini sering terjadi keterlambatan pembangunan dan pengalokasian anggaran di sektor ekonomi, kesehatan, dan politik. Kami juga melihat adanya perlakuan diskriminatif terhadap Wija To Luwu, termasuk mahasiswa yang menempuh pendidikan di Makassar,” kata Alif.

Ia menegaskan, aksi penutupan jalan akan terus dilakukan hingga pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan turun tangan secara langsung untuk merespons tuntutan massa.

“Ini adalah bentuk kemarahan, keresahan, dan kekecewaan kami terhadap pemerintah. Aksi ini tidak akan berhenti hari ini, tetapi akan terus berlanjut sampai ada atensi langsung dan langkah konkret,” tegasnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved