Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

PHK Sulsel

PHK di Sulsel Tinggi, Sektor Ritel hingga Konstruksi Dinilai Rentan

Pengamat Ekonomi dari Unismuh Makassar, Dr Rendra Anggoro, mengatakan, banyak sektor usaha saat ini dinilai menghadapi tekanan biaya operasional.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Alfian
Istimewa/Dr Rendra Anggoro
PHK TINGGI - Pengamat Ekonomi dari Unismuh Makassar, Dr Rendra Anggoro. Rendra menilai tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di Sulsel dinilai menjadi sinyal bahwa struktur ekonomi daerah masih rentan terhadap perlambatan usaha dan efisiensi perusahaan. 

Rendra pun meminta pemerintah daerah agar lebih fokus menciptakan ekosistem kerja jangka panjang, bukan sekadar mengejar angka investasi masuk.

Menurutnya, sektor UMKM, industri pangan, perikanan, pertanian modern, ekonomi digital, logistik, hingga pariwisata masih sangat potensial menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Namun, ia menekankan sektor-sektor tersebut membutuhkan dukungan serius.

Mulai dari akses pembiayaan, pelatihan sumber daya manusia, hilirisasi produk, hingga kepastian regulasi.

“Ke depan, yang paling penting bukan hanya menarik investor datang, tetapi memastikan investasi itu benar-benar membuka lapangan kerja yang stabil dan berkelanjutan bagi masyarakat Sulsel,” jelasnya.

Baca juga: Disnaker Sidrap Fasilitasi Pencairan JKP Bagi Karyawan Terkena PHK

Sebelumnya, Ketua Apindo Sulsel, Suhardi mengatakan, PHK yang terjadi bukan disebabkan ketidakmampuan dunia usaha mempertahankan pekerja, melainkan dampak berantai dari situasi global.

“Banyak persoalan berdampak, mulai dari politik, ekonomi global, perang, semuanya berpengaruh,” kata Suhardi, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Minggu (10/5/2026).

Suhardi menyebut sektor yang paling terdampak PHK di Sulsel meliputi pertambangan, perhotelan, pertanian, perdagangan, hingga sektor jasa dan pariwisata.

Menurutnya, sektor-sektor tersebut masih berpotensi menghadapi tekanan sepanjang 2026.

Apalagi jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dapat memicu kenaikan biaya logistik dan berdampak langsung pada rantai distribusi perdagangan.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved