Provinsi Luwu Raya
Keranda Bertulis Gubernur Sulsel di Tengah Massa Saat Demo Pemekaran Provinsi Luwu Raya
Puluhan demonstran memadati Desa Batu Lappa, Kecamatan Larompong Selatan, persis di gapura batas Kabupaten Luwu-Wajo.
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Aksi unjuk rasa yang menuntut Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah masih berlanjut di Kabupaten Luwu.
Puluhan demonstran memadati Desa Batu Lappa, Kecamatan Larompong Selatan, persis di gapura batas Kabupaten Luwu-Wajo.
Lokasinya berjarak sekitar 36 kilometer ke arah selatan dari Kantor Bupati Luwu di Jl Pahlawan, Senga, Kota Belopa.
Aliansi Perjuangan Masyarakat Tana Luwu (Permata) memadati jalan poros Makassar-Palopo dengan tuntutan (DOB) Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah.
Spanduk berwarna putih dengan tulisan 'Siap Berjuang Bersama untuk Provinsi Luwu Raya. Luwu Raya Harga Mati' dibentangkan di atas gapura batas kabupaten.
Dari pantauan Tribun-Timur.com, demonstran memblokade seluruh badan jalan dari pukul 16.08 hingga 18.22 Wita malam.
Luapan kekecewaan demonstran diluapkan lewat orasi di atas mobil komando yang dibuat melintang di badan jalan.
Salah satu demonstran, Furqan menerangkan, perjuangan DOB Luwu Tengah sudah memakan korban jiwa.
Baca juga: Demonstran Bentang Spanduk Luwu Raya Harga Mati di Batas Luwu-Wajo
Tragedi Walmas berdarah di tahun 2013 silam membuat salah seorang perjuangan pemekaran, Candra berpulang.
Furqan membuka orasinya dengan meminta seluruh puluhan demonstran untuk berdoa atas wafatnya mendiang Candra.
Ia menambahkan, adanya keranda mayat bertulis Gunernur Sulawesi Selatan dibuat sebagai simbol kekecewaan.
Demonstran kecewa dengan kepemimpinan Andi Sudirman Sulaiman yang dinilai mengenyampingkan masyarakat Tana Luwu.
Luwu Raya berarti Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, serta Kota Palopo.
"Perlu saya tegaskan seluruh peserta aksi, adanya keranda mayat itu menjadi simbol, Andi Sudirman Sulaiman tidak memiliki pemikiran tentang Tana Luwu," ujarnya di atas mobil komando sekitar pukul 17.10 Wita sore.
Ia menambahkan, gelombang demonstrasi akan terus berlanjut sampai DOB Provinsi Luwu Raya-Kabupaten Luwu Tengah terbentuk.
Demonstran lain, Noldy menyebut, keranda mayat itu berarti matinya nurani Gubernur Andi Sudirman Sulaiman.
Ia meminta, kepada pejabat dan otoritas pemerintah terkait, untuk menyampaikan aspirasi tersebut di Jakarta, untuk mewakili aspirasi DOB Provinsi Luwu Raya-Kabupaten Luwu Tengah.
"Kami akan menolak, kalian ketika pulang tidak membawa hasil. Sampaikan kepada pemerintah republik ini, sampaikan kepada DPR RI, sampaikan kepada Mendagri," tandasnya.(*)
| Setahun Disusun, Naskah Akademik Provinsi Luwu Raya Akhirnya Rampung |
|
|---|
| Ketua Komisi II DPR RI Minta Kajian DOB Luwu Raya Dibuat Lebih Objektif |
|
|---|
| Komisi II DPR RI Kumpul Kepala Daerah Se-Luwu Raya di Rujab Gubernur Sulsel Bahas Pemekaran |
|
|---|
| Pemekaran Luwu Raya, PT Vale Tetap Patuh Aturan dan Jalankan Program Pemberdayaan |
|
|---|
| Dirjen Otda Sebut 370 Draft DOB Menumpuk, Luwu Raya Belum Pasti 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260206-Keranda-mayat-bertulis-Gubernur-Sulsel.jpg)