Provinsi Luwu Raya
Demonstran Bentang Spanduk 'Luwu Raya Harga Mati' di Batas Luwu-Wajo
Puluhan demonstran kembali memadati batas Kabupaten Luwu-Wajo dengan tuntutan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Aliansi Perjuangan Masyarakat Tana Luwu (Permata) kembali berunjuk rasa di Jl Poros Makassar-Palopo, Desa Batu Lappa, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu.
Puluhan demonstran kembali memadati batas Kabupaten Luwu-Wajo dengan tuntutan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya-Kabupaten Luwu Tengah.
Spanduk besar bertulis 'Siap Berjuang Bersama untuk Provinsi Luwu Raya. Luwu Raya Harga Mati' dibentangkan di atas gapura batas kabupaten.
Mobil pikap dibuat melintang di badan jalan, sekaligus menjadi panggung bagi para orator yang ingin menyampaikan aspirasinya.
Koordinator Lapangan, Sampedo membuka demonstrasi dengan kondisi pembangunan yang timpang di Luwu Raya (Luwu, Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur).
"Padahal kita punya Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Kita punya emas, kita punya nikel, kita punya perkebunan. Kita mampu hidup sendiri. Kita mampu menghidupi kita sendiri," bebernya di atas mobil komando, Minggu (8/2/2026) sekitar pukul 15.40 Wita sore.
Baca juga: Jalan Trans Sulaweesi Batas Lutra-Lutim Diblokade, Massa Tuntut Pemekaran Provinsi Luwu Raya
Hanya saja, Kata Sampedo, melimpahnya SDA tidak dirasakan oleh sebagian Wija to Luwu.
Sebab hasil pengelolaan dari ekstraksi SDA berupa pajak dan royalti, terkonsentrasi di level pemerintah pusat dan provinsi.
"Realitas hari ini, Pemerintah Sulsel tidak adil di Tana Luwu," ujarnya salah seorang demonstran, Ciwang .
Salah satu RS bertaraf internasional, sehingga kita tidak jauh lagi ke Makassar. Kemudian lapangan pekerjaan akan terbuka.
Ketua IPMIL Larompong Selatan, Ciwang mengaku, perlawanan menuntut DOB Provinsi Luwu Raya-Luwu Tengah lahir dari keresahan akar rumput.
Itu dibuktikan dengan kedatangan elemen tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan di lokasi aksi.
"Perlawanan ini bukan hal kemarin sore, tapi perjuangan yang sudah kita lakukan berpuluh-puluh tahun. Oleh karena itu, perjuangan ini adalah pergerakan suci," beber Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) Larompong Selatan itu.
Ciwang kembali mengungkit tuntutan DOB sudah diperjuangkan Wija to Luwu berpuluh-puluh tahun pasca kemerdekaan.
Apalagi dengan adanya janji Presiden Soekarno kepada Datu Luwu Andi Djemma pascakemerdekaan.
"Kedatangan kita di sini, untuk menuntut pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah itu segera dibentuk," tandasnya.(*)
| Setahun Disusun, Naskah Akademik Provinsi Luwu Raya Akhirnya Rampung |
|
|---|
| Ketua Komisi II DPR RI Minta Kajian DOB Luwu Raya Dibuat Lebih Objektif |
|
|---|
| Komisi II DPR RI Kumpul Kepala Daerah Se-Luwu Raya di Rujab Gubernur Sulsel Bahas Pemekaran |
|
|---|
| Pemekaran Luwu Raya, PT Vale Tetap Patuh Aturan dan Jalankan Program Pemberdayaan |
|
|---|
| Dirjen Otda Sebut 370 Draft DOB Menumpuk, Luwu Raya Belum Pasti 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260208-Blokade-Wajo-Luwu.jpg)